Kilas Balik

Tahun lama lekas berakhir, tahun baru segera datang. Semua orang sibuk. Yang sudah berkeluarga sibuk membuat agenda liburan akhir tahun keluarganya, yang masih jomblo sibuk mencari pasangan untuk menikmati Malam Tahun Baru, yang tinggal di kota besar sibuk hunting tempat melipir sejenak dari kesemrawutan kota, media sibuk memberitakan tentang kilas balik kejadian sepanjang tahun, televisi sibuk menyiapkan hiburan musik atau dangdutan, para penyanyi sibuk menghafal lirik, pengrajin terompet sibuk memproduksi terompet, karyawan pabrik mercon sibuk membuat kembang api, karyawan kantor sibuk tutup buku dan membuat laporan akhir tahun, peramal sibuk membual, penyelenggara award sibuk menyortir nominasi dan nama-nama calon pemenang, polisi dan TNI sibuk diomeli istrinya karena Malam Tahun Barunya mereka kejatahan jadwal piket, si pesimis sibuk mengeluh tahun lama, si optimis sibuk merancang resolusi tahun baru. Semua sibuk.

Saya pun sibuk. Tapi ketimbang sibuk membuat resolusi yang saban tahun jarang saya capai karena saking tak realistisnya resolusi itu, saya lebih sibuk mereview apa saja yang sudah saya lewati dan saya alami selama setahun belakangan saya hidup. Bisa dikatakan, saya sibuk menengok ke belakang. Bukan melihat ke belakang seperti seorang yang gemar mengingat masa lalu, tapi lebih ke introspeksi, menilik apa saja yang telah menimpa diri saya. Setahun sudah mata saya dipakai untuk melihat ke depan, alangkah baiknya jika akhir tahun mata ini digunakan untuk melihat sejenak ke belakang.

Menengok ke belakang dalam pengertian introspeksi tentu bukanlah perkara yang gampang. Banyak hal terjadi, sementara saya tak tahu persis mana-mana yang harus diubah, mana yang harus dipertahankan, dan mana yang mesti ditinggalkan. Dan di antara banyak hal yang terjadi itu, ada yang harus diperlihatkan ke orang-orang, ada juga yang cukup diendapkan saja untuk saya nilai sendiri di ujung waktu, di penghujung tahun, dan lalu dijadikan sebagai pelajaran di tahun-tahun yang akan datang.

Begitu banyak kejadian yang menimpa diri saya, pasti cuma sedikit saja yang bisa saya pungut untuk dijadikan sebagai pelajaran. Pepatah bilang, guru terbaik adalah pengalaman. Maksud pepatah itu bukanlah cuma pengalaman yang saya alami sendiri, tapi juga pengalaman orang lain. Saya dan Anda tak perlu mengalami sebuah pengalaman pahit untuk tahu peristiwa tersebut memang menyakitkan. Kita tak perlu menjadi Abdul Qodir Jaelani untuk tahu bahwa jika belum cukup umur, sebaiknya jangan membawa mobil sendiri. Kita tak perlu menjadi Farhat Abbas agar paham bahwa orang yang terlalu mencampuri urusan orang lain itu menjengkelkan. Kita tak usah menjadi Subur atau Vicky Prasetyo hanya agar dikenal penonton gosip televisi. Kita tak usah njengking-njengking seperti Miley Cyrus untuk sekadar mencuri perhatian orang, berfoto-foto selfie seperti Barack Obama, marah-marah seperti Arya Wiguna, pamer kekayaan seperti Nassar dan istrinya, menyiramkan air ke muka orang seperti yang dilakukan Munarman, dan lain sebagainya. Kita tak perlu semua itu. Yang kita perlukan adalah belajar dari pengalaman orang lain sebab sesungguhnya hidup ini begitu singkat untuk kita harus mengalami semua hal itu sendiri.

Semasa kecil, orang tua saya atau orang tua kita pada umumnya tentu sering bercerita perihal pengalaman hidupnya. Yang mereka lakukan adalah sedang memberi tahu bahwa ada sebagian pengalaman hidupnya yang anaknya perlu belajar sebagaimana para orang tua mereka mengisahkannya pada mereka, karena mereka tahu, umur anaknya tidak cukup untuk mengalami sendiri semua hal. Beranjak besar, saya sering dicurhati oleh teman tentang apa saja, memerhatikan tingkah-laku orang-orang di jalan, melihat keributan di pasar, melihat keramaian di pasar malam, melihat keriuhan di mal, mendengar cerita demi cerita, membaca berita, dibisiki kisah-kisah, diemail seseorang yang berkisah tentang apa yang dialami dalam hidupnya, dan lain sebagainya. Saya belajar banyak dari semua itu. Saya belajar agar dalam hidup yang sangat singkat ini, jika saya tak cukup umur untuk berbuat banyak kebaikan, paling tidak saya tak menunaikan banyak kesalahan.

Dedo Dpassdpe
Manusia

BAHASA

Saya tak dapat meragukan bahwa bahasa berasal dari imitasi dan modifikasi, dibantu oleh isyarat dan gerakan, terhadap berbagai suara alam, suara binatang lainnya, dan teriakan naluriah manusia sendiri. – Charles Darwin

Di tulisan saya yang lalu, saya menulis sebuah tulisan tentang nekrofilia. Seorang pembaca protes karena ‘nekrofilia’ yang saya maksudkan bukan pada artian seperti terdapat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang bermakna kelainan tertarik secara seksual terhadap mayat. Karena saya ingin membahas tentang kehidupan dari sudut pandang orang yang lebih tertarik pada kematian, maka saya menggunakan kata ‘nekrofilia’ tersebut sebagai istilahnya. Lagipula saya tidak menemukan kata yang tepat selain kata itu. Nekrologi, nekrolog, nekromansi, dan lain sebagainya pun tidak tepat sama sekali jika saya gunakan. Saya pun menggeneralisasikan kata ‘nekrofilia’ menjadi lebih luas maknanya agar tak cuma berhenti di pengertian seperti tertera di KBBI. Saya tentu terkesan sembarangan menggunakan istilah tersebut, tapi jauh sebelumnya, bertahun yang lalu, saya pernah membaca sebuah ulasan di koran besar nasional yang membahas tentang nekrofilia. ‘Nekrofilia’ yang dimaksud kurang lebih sama dengan pengertian yang saya ciptakan, yaitu yang sudah mengalami generalisasi. Di koran itu, penulis menyandingkannya dengan kata ‘biofilia’ sebagai lawan katanya. ‘Biofilia’ sendiri tidak ada di kamus setahu saya. Tapi saya dapat mengerti maksudnya. Maka mari kita sepakati bahwa sebuah kata atau perkataan tentu penting jika kita menggunakannya dengan baku, benar, dan tepat. Tapi yang terpenting adalah maksudnya dapat kita tangkap.

Pada sekitaran tahun 2007, saat saya masih berkantor di sebuah laboratorium optik, saya pernah punya teman kerja limpahan dari laboratorium Korea Selatan. Namanya sebut saja Bambang. Perkenalan kami dengannya tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya butuh beberapa hari saja kami sudah tahu dari mana dia berasal, apa pekerjaannya di Korea Selatan, bagaimana bisa dia sampai ke negara ginseng itu, berapa gajinya, dengan bahasa apa dia bicara dengan rekan-rekannya di kantornya dulu, dan lain sebagainya.

Bambang ini berasal dari daerah Jawa. Semarang tepatnya. Usianya delapan tahun lebih tua dari umur saya. Dia bekerja di Korea Selatan selama tiga tahun lebih dan pulang-pulang bawa uang segepok, dia sendiri yang bercerita seperti itu, saya tak lihat uangnya tapi saya percaya saja. Sebelumnya, dia menganggur saat masih menunggu panggilan kerja dari pihak terkait. Masa menganggurnya itu, katanya, adalah masa menghabiskan uang dari hasil bekerja sebelumnya di Taiwan selama setahun. Ya, sebelum bekerja di Korea Selatan, dia pernah bekerja di Taiwan. Dia berkisah, pekerjaannya di Taiwan itu lebih sulit ketimbang pekerjaannya di Korea Selatan. Pasalnya dia waktu itu baru lulus SMA, belum berpengalaman, dan hanya bermodalkan nekat seperti orang-orang di kampung halamannya yang merantau entah ke mana untuk mengubah nasib dirinya dan keluarganya. Bapaknya adalah seorang petani biasa. Tak kaya-kaya amat bahkan untuk ukuran di kampung. Tekad untuk mengubah nasib itulah yang membawanya sampai ke negeri seberang dengan modal ongkos hasil dari jual sawah bapaknya yang tak kaya-kaya amat itu. Dia berjanji pada bapaknya, kelak nanti, nasib keluarga akan berubah.

Singkat cerita, berangkatlah dia ke Taiwan dengan nekatnya, tanpa teman di sana, tanpa tahu bahasanya, dan tanpa tahu kultur di negeri itu. Di sana dia bekerja di sebuah bengkel mobil milik orang lokal di daerah situ. Dia tak bisa bahasa Taiwan, sementara majikannya tak bisa bahasa Indonesia. Keduanya pun tak bisa bahasa Inggris. Maka yang terjadi selama masa-masa awal dia bekerja di sana adalah dialog dengan bahasa monyet, bahasa yang ketika mereka berdua gunakan, tak ada satu pun orang di situ yang mengerti apa maksudnya. Kata Bambang, jika majikannya menyuruhnya mengambilkan tang, obeng, atau alat apa, majikannya akan bicara dengan isyarat tubuh dan intonasi setengah teriak (mungkin emosi atau kesal) dengan bahasa yang bukan bahasa Taiwan, dan tidak pula bahasa Indonesia, dia pun akan membalasnya dengan bahasa yang sama. “Hah huh hah huh!” kata majikannya sambil tangan atau mimik mukanya menerangkan sesuatu, seperti ditirukan Bambang. Mereka berdua tidak mengerti bahasa itu, tapi keduanya sekuat tenaga untuk memahami maksudnya. Tak jarang dia salah mengerti maksud majikannya. Ketika dia salah mengambil alat, majikannya akan menolak dengan bahasa yang mereka ciptakan itu, dia pun akhirnya memahami bahwa dia salah mengambil lalu akan mengerti mana alat yang harus diambil. Begitu seterusnya.

Bambang bilang bahwa majikannya adalah orang yang disiplin dan teratur, jika meminta kunci pas maka harus kunci pas, tidak boleh kunci Inggris meskipun kunci Inggris bisa digunakan. Pernah suatu kali dia melihat majikannya kesusahan memasang paku di tembok hanya karena tidak menemukan palu. Dia pun mendatanginya dan membantu memasang paku itu di tembok dengan memakukannya memakai tang. Saat itu, dia cuma menemukan tang, palu entah sedang dipakai siapa. Majikannya heran dia melakukan itu, dia pun heran dengan kedisiplinan dan kebakuan majikannya. Mereka saling heran. Karena Bambang hanyalah karyawan, maka dialah yang kena marah oleh sebab telah membuat majikannya heran. Tapi karena tidak tahu apa yang diucapkan majikannya itu saat memarahinya, Bambang pun hanya menunduk. Bertahun-tahun kemudian, dia menceritakan kisah itu pada saya sambil terbahak-bahak. Tak berani tertawa di negeri orang, dia simpan rapi-rapi kisah itu untuk ditertawainya di negeri sendiri.

Beruntung majikannya baik, meski ketika menyuruh sesuatu nadanya setengah teriak seperti orang lagi senewen, majikannya tetap mempekerjakannya. Kadang-kadang di tengah percakapan mereka, sedikit demi sedikit majikannya menyisipkan kosakata bahasa Taiwan dengan telatennya seperti seorang ibu yang mengajak bayinya bicara. Hasilnya, tiga bulan pertama, sudah ada orang lain yang mengerti ketika melihat mereka berdua berbicara. Enam bulan, mereka pun meninggalkan bahasa monyet yang mereka ciptakan. Sembilan bulan, mereka berdua sudah lupa bahwa mereka pernah ribut gara-gara salah mengambil alat. Mereka seperti membuktikan bahwa Teori Evolusi Darwin juga berlaku di bahasa. Setahun bekerja di situ, dia pulang kampung dan lalu berkisah pada tetangga-tetangganya bahwa tidak penting bisa bicara bahasa negeri asing untuk bisa bekerja di negeri itu, yang penting maksudnya dimengerti. Mendengar ceritanya, orang-orang sekampung pun seketika langsung tergiur untuk mencari uang ke negeri asing tanpa pernah berpikir bahwa tak semua majikan di sana sebaik dan setelaten majikan teman saya itu. Lalu yang terjadi berikutnya, saya semakin sering mendengar berita TKI atau TKW tewas di negeri orang lantaran cekcok dengan majikannya.

Bambang tentu tak salah. Dia beruntung. Dan keberuntungan tidak bisa disalahkan. Kenekatannya telah membawa dia pergi ke negeri seberang, belajar bahasa serta kulturnya, menikmati kuliner asal sana, dan pulang-pulang bawa uang. Kesederhanaan, kemauannya belajar, kenekatannya, dan kemampuannya memahami maksud itulah yang membedakannya dengan Vicky Prasetyo. Seorang yang baru-baru ini begitu populer di koran, televisi, dan sosial media. Saya tak tahu persis siapa dia, tapi keramaian di Twitter dan juga karena beberapa teman mengupload video cara bicaranya, membuat saya tergelitik untuk sedikit mencari tahu siapa dia. Yang saya tahu, Vicky adalah pengguna bahasa yang amburadul. Tata bicaranya berantakan seperti seorang politikus karbitan yang gemar memamerkan intelektualitas di depan rakyat yang berpendidikan rendah. Gaya bicaranya mengingatkan saya pada bahasa monyet yang diciptakan Bambang dan majikannya yang ketika dibicarakan, tak seorang pun mengerti. Tapi setidaknya, Bambang dan majikannya mengerti maksudnya. Vicky Prasetyo lebih parah mengingat dia datang tidak dari kalangan bawah dan semestinya cara bicaranya lebih tertata dan mudah dipahami. Saya yakin, ketika Vicky bicara, ia sendiri pun tak mengerti apa maksudnya. Entahlah.

Tapi omong-omong soal mengerti sebuah maksud, selain kata ‘nekrofilia’ tadi yang oleh saya digeneralisasikan maknanya, kita banyak sekali menemui kata-kata yang mengalami pergeseran makna. Di Twitter, kita sering menjumpai kata ‘nyinyir’ yang makna sebenarnya adalah cerewet, cerewet seperti seorang tua yang suka bicara berkali-kali. Tapi di Twitter kata tersebut mengalami peyorasi dan berubah maknanya menjadi menyindir. Ketika ada seorang bilang, “Tweet kamu nyinyir,” maka maksudnya adalah perkataannya di Twitter menyindir atau menyinggung. Kita mengerti maksudnya walaupun secara makna baku, penggunannya itu keliru. Kata ‘ceramah’ yang dulu berarti cerewet, sekarang mengalami perubahan makna menjadi pidato, belakangan makna awal kata itu kembali lagi. Saat seseorang mengatakan, “Kamu nggak usah ceramah deh,” maka maksudnya adalah meminta lawan bicara agar tidak perlu cerewet. Kata ‘ibu’ dan ‘bapak’ yang pada awalnya berarti emak dan ayah sekarang mengalami perluasan makna menjadi sebutan atau panggilan pada orang yang telah dewasa. Dan banyak lagi contoh lainnya.

Kita tentu tak ingin terjebak menjadi manusia yang kaku pada sebuah aturan baku. Kata orang, aturan dibuat untuk dilanggar. Saya dan Anda tidak perlu melanggar aturan-aturan yang sudah ada. Hanya saja, melonggarkan sedikit cara pandang kita terhadap sesuatu menurut saya lebih baik daripada terlalu ketat. Kawan, saya ingin mengatakan bahwa longgar itu berbeda dengan langgar. Kita tak perlu menjadi Vicky Prasetyo yang membuat berantakan suatu tatanan yang sudah teratur. Tak perlu pula menjadi penonton yang kebingungan karena tatanan yang sudah ada dibuat berantakan hingga kita tak mengerti maksudnya. Juga tak perlu menjadi Bambang dan majikannya yang membuat hal baru untuk mencapai maksud. Bahasa hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Yang terpenting adalah maksud tersampaikan. Ketika sebuah tang bisa dipakai untuk memaku, kita tak perlu susah payah mencari palu yang entah di mana ditaruhnya. Tang dan palu hanyalah alat. Toh paku bisa tertancap. Toh kita tak merusak tembok dan juga tidak merusak tang itu seperti perusakan yang dilakukan Vicky Prasetyo pada bahasa.

Jika mengandaikan bahasa adalah sebuah proses dan maksud sebagai hasil, saya ingin bilang bahwa proses itu penting, tapi yang paling penting adalah hasil. Jalan mana pun selagi bisa mencapai ke Roma, maka tidak penting lagi jalan mana dan apa nama jalan itu. Proses apapun jika hasilnya tercapai, maka tidak penting lagi proses itu. Berproseslah, berbahasalah sesukanya selagi maksudnya tidak kabur dan bisa dimengerti oleh penyimak maka tak perlu takut bahasa itu menjelma menjadi kata-kata tak bermakna. Tentu dengan catatan proses itu terarah, tidak berantakan, tidak membingungkan, dan tidak pula proses yang dilakukan dengan cara-cara yang salah.

Dedo Dpassdpe
Pengguna Bahasa

KEHIDUPAN

Dulu, saya pernah mendapatkan pelajaran biologi bahwa makhluk hidup di dunia ini ada ratusan juta jenis, dan di antara ratusan jenis ini dikerucutkan lagi menjadi tiga jenis. Yaitu manusia, binatang, dan tumbuhan. Mengingat saya tumbuh di lingkungan keluarga besar pesantren yang percaya benar bahwa ada makhluk lain selain kita yang hidup di dunia, maka saya memprotes klasifikasi tersebut atas tidak dimasukannya jin, setan, dan sejenisnya ke dalam golongan makhluk hidup. Tapi guru saya bilang bahwa jin dan kawan-kawannya tidak dimasukkan ke dalam jenis makhluk hidup karena ini ilmu biologi. Beliau bilang bahwa ilmu biologi dan ilmu logi-logi lainnya itu berdasarkan sesuatu yang bisa dijelaskan secara logika. Baiklah, sampai di titik ini saya memahami penjelasan ini dan menerima alasan para dokter yang selalu berusaha menjelaskan penyakit yang diderita pasiennya dengan penjelasan yang logis walaupun penyakitnya bisa jadi karena guna-guna, santet, tenung, dan sebagainya yang semakin dijelaskan dengan logika kedokteran semakin tak bisa masuk di logika saya.

Jin, iblis, dan kawan-kawannya mungkin hanya bisa dibicarakan di ranah isme, bukan logi, sebab logi itu haruslah logis seperti kata guru saya. Tapi saya tetap memprotes guru saya atas tidak dimasukannya jam dinding, robot, televisi, mobil, dan lain-lain ke dalam jenis makhluk hidup padahal apa-apa yang disebutkan saya tadi itu hidup. Guru saya bilang bahwa jam dinding, robot, dan sebagainya tidak dapat dikategorikan sebagai makhluk hidup karena mereka bukan makhluk. Lalu apa pengertian makhluk itu sendiri? Tanya saya. Makhluk itu semua yang diciptakan oleh Tuhan, kata guru saya. Nah, kenapa biologi percaya adanya Tuhan kalau memang biologi itu harus bisa dijelaskan secara logis? Bukankah Tuhan itu gaib dan tidak bisa dijelaskan dengan logika? Kalau memang makhluk hidup itu haruslah merupakan makhluk dan eksistensinya harus bisa dijelaskan secara logis kenapa gunung dan batu tidak termasuk padahal gunung dan batu itu termasuk makhluk dan mereka itu hidup dan bisa tumbuh? Tanya saya. Guru saya bilang, gunung dan batu itu banyak yang mati, jadi bukan termasuk makhluk hidup. Tapi manusia juga banyak yang mati, tanya saya. Beliau diam.

Seperti kata Soe Hok Gie bahwa guru bukanlah dewa yang selalu benar dan murid bukanlah kerbau, saya bisa saja mendebat guru saya tentang banyak hal, tapi saya hidup untuk memahami bahwa semua hal tak harus dipahami dan hanya harus diterima saja. Ada banyak hal yang bisa kita terima tanpa harus kita mengerti. Saya pun menerima penggolongan makhluk hidup itu seperti saya menerima kenyataan bahwa di zaman Orba, Candi Borobudur masuk ke dalam jajaran 7 Keajaiban Dunia padahal sebenarnya tidak pernah masuk. Saya menerimanya sebagai sebuah kenyataan bahwa aksioma-aksioma dan hipotesa di wilayah ilmu memang kerap kali tidak bisa diterima oleh akal dan hanya harus diterima saja sebagai sebuah hasil dari akal, atau mungkin sebuah hasil akal-akalan. Orang-orang yang percaya Tuhan berdebat tentang teori Darwin yang tak masuk akal mereka, tapi Darwinian pun mendebat mereka bahwa Tuhan mereka pun tak masuk akal bagi para Darwinian. Orang-orang berdebat tentang pendaratan di bulan oleh AS, berdebat tentang bahwa sebelum menciptakan Adam, Tuhan menciptakan prototype Adam-Adam lainnya, dan debat-debat lainnya. Tapi selalu saja yang didebat itu bisa mendebat balik dan tetap bisa menjelaskan dan mendebatnya secara logis.

Sewaktu STM, saya pernah dikasih unjuk sebuah video tentang mantan biarawati yang masuk Islam dan menjadi ustadzah yang konon membongkar adanya Kristenisasi dengan membawa bukti seperti kaligrafi-kaligrafi yang bukan berasal dari Islam, atau bangunan-bangunan yang menyerupai masjid padahal bukan bangunan tempat ibadah Islam. Tapi saya juga pernah mendengar cerita orang yang keluar dari Islam dan masuk ke agama lain dan membawa kisah mukjizat yang kurang lebih sama dengan ustadzah itu, ia menemukan pencerahan hidup di agama barunya. Perdebatan-perdebatan semacam itu kadangkala saya rasa seperti pertengkaran antara JIL dan FPI. Kata JIL, FPI itu tidak benar karena merusak. Tapi kata FPI, JIL-lah yang sebenarnya tidak benar dan merusak. Persis seperti di mata orang normal, pasien-pasien RS Jiwa itu mengidap penyakit gila, tapi di mata pasien-pasien sakit jiwa itu, dokter dan pengunjung rumah sakit itulah yang gila. Persis macam orang kulit putih yang berjuang dengan susah payah untuk mendapatkan kulit berwarna, tapi orang dengan kulit berwarna juga berusaha mati-matian untuk mendapatkan kulit putih. Persis seperti orang kurus yang bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh orang-orang gemuk sampai kesusahan untuk menguruskan badannya sendiri. Tapi orang-orang gemuk pun sama, mereka juga bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh orang-orang kurus hingga mereka kepayahan membuat gemuk badannya sendiri. Saya menyebut ini sebagai perdebatan rumput tetangga, di mana rumput tetangga selalu kelihatan jauh lebih hijau dari milik kita sendiri, tapi kata tetangga, rumput halaman kitalah yang sebenarnya hijau.

Pemikiran-pemikiran yang debatable semacam itu sungguh banyak sekali. Banyak sekali hingga membagi makhluk ke berbagai jenis dan salah satunya adalah manusia, dan membagi manusia menjadi berbagai ras, suku, bangsa, agama dan sebagainya. Saya kira hal-hal semacam itu adalah hasil dari perdebatan-perdebatan yang membingungkan. Dan kata orang bahwa hidup adalah sebuah perdebatan mungkin ada benarnya. Dan selayaknya perdebatan yang seperti kita saksikan di tivi-tivi, maka wajar jika hidup ini membingungkan, membosankan, dan tak banyak berarti. Sebegitu membingungkannya sampai-sampai Soe Hok Gie pun bertanya pada banyak setan tentang tujuan hidup dan tak satu pun setan yang tahu. Sebegitu membosankannya sampai-sampai membuat Kurt Cobain kehilangan hasrat bahkan saat dirinya dipuja banyak orang dan memilih terbakar habis daripada memudar. (Saya tak mengerti bagaimana membosankannya hidup yang penuh dengan hujatan, wong hidup penuh dengan banyak pujaan pun ternyata bisa membosankan.) Sebegitu tak berartinya sampai-sampai Chairil Anwar pun ingin sesudah sekali merasa berarti, ingin lekas mati.

Saya rasa pengertian kehidupan seperti itu tidak hanya di mata Gie, Cobain, dan Chairil saja. Banyak di antara kita yang merasakan hal seperti itu. Hanya saja, doktrin agama, psikologi, dan lain sebagainya mendogma kita untuk selalu tampil optimis menunaikan hidup, penuh cinta, selalu gembira, dan penuh motivasi menjalani kehidupan seolah-olah kita semua dibayar untuk hidup. Hahaha.

Lalu apa tujuan hidup? Ketika ditanya tentang itu oleh seorang teman, saya dengan jawaban lugas dan kalimat yang ditekankan agar terdengar berwibawa seperti seorang motivator yang hidupnya selalu optimis menjawab bahwa tujuan hidup kita adalah menjadi berarti bagi yang lainnya. Itu saja. Jadi selagi berarti dan berguna bagi sesama maka tujuan hidup kita telah tercapai. Tapi di balik jawaban yang sok memotivasi itu pun saya menyimpan banyak pertanyaan apakah benar tujuan hidup seperti itu, lalu jika tujuan hidup sudah tercapai apakah kita boleh memilih mati saja? Jika benar hidup adalah sebuah pilihan, maka pilihan yang lainnya itu mati bukan? Jika benar tujuan hidup seperti itu maka apakah Gie, Cobain, dan Chairil yang ketiganya meninggal di usia muda (dan anggota Club 27 lainnya) sudah tercapai tujuan hidupnya? Jika benar, apakah orang-orang yang hidupnya sampai tua adalah orang yang terlunta-lunta mencari tujuan dan tak kunjung menemukannya? Jika benar seperti itu, ah beruntung sekali orang-orang yang meninggal di usia muda. Mereka mengerti bahwa hidup adalah ujian dan sebagaimana ujian maka yang menyelesaikan hidupnya cepat-cepat adalah orang-orang yang cerdas, dan betapa bebalnya kita berlama-lama hidup dan tak bergegas merampungkannya.

Soal meninggal di usia muda, saya dulu pernah punya tetangga yang lahir di zaman entah. Dulu sekali, sampai beliau sendiri pun lupa tahun berapa saking lamanya, dan ketika ditanya berapa usianya, beliau selalu menjawab 100 tahun. Tahun dulu ditanya, jawabnya 100 tahun. Tahun kemarin ditanya, jawabnya 100 tahun. Dan tahun pada waktu itu ditanya, jawabnya pun sama, 100 tahun. Usianya seperti abadi di umur 100 tahun. Namanya Kintel. Namanya pun aneh karena kintel di desa kami berarti kodok. Tapi itu wajar saja karena beliau lahir di zaman dulu sekali. Zaman saat nama seperti Runtah, Ribut, dan sebagainya dianggap baik-baik saja dan tak perlu diperdebatkan. Beliau adalah penyandang KTP seumur hidup dari sejak saya belum lahir, pertanda beliau sudah dianggap tua sudah sejak zaman dulu. Beliau mengklaim bahwa beliaulah yang usianya paling tua di desa kami, dan saya percaya saja padahal kata orang-orang yang sama tuanya bilang bahwa Pak Kintel berusia 80-an tahun.

Nah, pada suatu hari, Pak Kintel ini ditinggal mati istrinya, dan beberapa hari kemudian (belum genap 7 harian seingat saya,) beliau ditinggal mati anaknya yang masih berusia muda dan menurutnya belum pantas mati. Beliau saya lihat tak menangis saat istrinya meninggal. Tapi saat anaknya meninggal, beliau menangis tersedu-sedu seakan-akan kehilangan segalanya sampai-sampai beliau salah mengucap kalimat Innalillah dengan kalimat Alhamdulillah. “Alhamdulillah Ya Allah. Alhamdulillah Ya Allah…,” begitu beliau mengekspresikan rasa dukanya di hadapan jenasah anaknya. Saya tidak tahu apakah kalimat yang terlontar dari mulutnya adalah ucapan yang disengaja atau ucapan yang keluar dari mulut seorang yang pikun mengingat usianya yang sudah sangat tua. Saya dan tentu saja hadirin pelayat dibuatnya mual perut karena ingin tertawa atas kesalahan itu tapi ditahan-tahan mengingat suasana sedang berkabung. Tak elok jika tertawa.

Tapi seiring saya dewasa, saya mengerti mungkin Pak Kintel mengucapkan kalimat Alhamdulillah sebagai wujud syukurnya atas meninggalnya anaknya itu. Mungkin beliau penganut kepercayaan bahwa mereka yang meninggal di usia muda adalah orang-orang yang beruntung dan berkaca pada dirinya bahwa semakin menua usia maka semakin tidak beruntung dan hidup akan semakin menyedihkan karena akan semakin sering dirinya menjadi saksi kematian orang-orang terdekatnya, semakin sering mengalami kehilangan-kehilangan. Maka mati di mata saya dan Kintel bukan merupakan suatu hal yang menakutkan. Dan ketika suatu kali saya menangisi kematian, maka bukan kematian yang saya tangisi, tapi kehilangannya yang saya tangisi. Saya sedih karena kehilangan orang-orang berarti dalam hidup saya. Saya sedih kehilangan emak saya, Gie, Cobain, Chairil Anwar, dan orang-orang yang tujuan hidupnya seperti kata saya di tengah tulisan ini, ‘Menjadi berarti bagi yang lainnya’. Saya sedih kehilangan arti dan sekaligus senang karena orang-orang yang saya sebut tadi setidaknya pernah hidup dan menjadi berarti bagi saya. Saya bahagia tujuan hidup mereka tercapai. Dan persangkaan saya sewaktu mengira Pak Kintel menangisi anaknya yang mati karena dianggap belum pantas mati itu salah. Ternyata, tak ada kata terlalu muda untuk mati.

Fakta bahwa tak ada terlalu muda untuk mati itu benar. Pameo bahwa hidup ini sangat singkat itu benar adanya karena memang fase hidup memang begitu singkat. Kita lahir, menjadi anak, kecil, dewasa, punya anak, lalu mati. Itu saja. Jika beruntung, fase itu bisa kita tambahkan punya cucu, punya cicit, dan seterusnya. Jika tak beruntung, fase itu bisa berkurang menjadi hanya lahir, jadi anak, kecil, lalu mati. Atau singkat sekali, lahir, lalu mati. Beruntung dan tidak beruntung pun lagi-lagi seperti perdebatan rumput tetangga, beberapa orang menganggap yang fase hidupnya sampai menua dan punya cucu itu orang yang beruntung, sementara beberapa orang lainnya menganggap yang fase hidupnya singkat hanya lahir untuk mati saja itulah yang beruntung. Membingungkan bukan? Ya, wajar saja. Kita sedang membicarakan hidup dalam pengertian perdebatan. Membingungkan adalah kewajaran dalam sebuah perdebatan.

Perkara hidup yang membingungkan ini, saya punya cerita yang mungkin kita semua mengalaminya. Dahulu, dahulu sekali. Semasa kecil, saya ingin lekas menjadi dewasa. Di mata saya waktu itu, menjadi dewasa itu menyenangkan, kita bisa bebas melakukan apa saja karena kita sudah dewasa. Tapi setelah dewasa, saya mengerti bahwa kita didewasakan untuk memahami ternyata masa kecil adalah masa yang paling menyenangkan. Tuduh-menuduh seperti itu lagi-lagi persis orang sakit jiwa yang menganggap orang normal itu tak waras, tapi orang normal juga menganggap orang sakit jiwalah yang sebenarnya gila. Yang saya takutkan setelah memahami perdebatan-perdebatan rumput tetangga itu adalah begini, saya sekarang masih hidup dan iri kepada mereka yang mati karena menganggap mati itu menyenangkan. Saya ngeri ketika nanti saya mati, di dalam alam kematian sana, saya akan iri pada kehidupan karena ternyata kehidupanlah yang sebenarnya menyenangkan. Pusing bukan? Mari berhenti berdebat.

Dedo Dpassdpe
Makhluk Hidup

Tulisan ini dipersembahkan untuk mengenang hari ulang tahun Dwi Fitriyani yang ke 27 yang jatuh di hari yang sama pada saat 7 harian kematiannya. Saya bangga kamu masuk ke dalam Club 27.

Mohon tulisan ini jangan dipahami sebagai tulisan yang dogmatis dan jangan dijadikan sebagai anutan. Tulisan ini untuk keperluan bacaan saja agar kita memahami kehidupan di mata seorang nekrofilia atau kehidupan di mata seorang narsis seperti kata Cobain, yang baru menghargai sesuatu jika sesuatu itu sudah tidak ada lagi.

Apalah Arti Sebuah Nama

Juliet berkata, “Hanya namamu yang menjadi musuhku. Tapi kau tetap dirimu sendiri di mataku. Bukan Montague. Apa itu Montague? Ia bukan tangan, bukan kaki, bukan lengan, bukan wajah, atau apapun dari tubuh seseorang. Jadilah nama yang lain. Apalah arti sebuah nama? Harum mawar tetaplah harum mawar. Meskipun mawar berganti dengan nama lain, ia tetap bernilai sendiri, sempurna, dan harum tanpa harus bernama mawar. Romeo, tanggalkanlah namamu. Untuk mengganti nama yang bukan bagian dari dirimu itu. Ambillah diriku seutuhnya.”

Mari merenung. Pernahkah kita bertanya pada orang tua kita apa maksud nama yang diberikan oleh orang tua kepada kita? Orang tua kita, atau lebih spesifiknya orang tua saya yang terlahir dari keluarga desa yang orang tuanya terlahir entah kapan, menikah saat masih di sekolah dasar, dan tidak pernah mencatatkan kelahiran di catatan kependudukan sipil kalau tidak disuruh-suruh oleh tokoh desa, mungkin tak pernah memunyai maksud apa-apa dalam memberikan nama pada anaknya. Wong kelahirannya sendiri saja beda-beda di setiap kartu identitas apalagi mencatatkan kelahiran anaknya dengan catatan yang tepat kelahirannya dan keren namanya seperti nama-nama orang kota yang mengandung kata David, Steven, Christian, Dimitri, Alexander, dan lain sebagainya. Maka di desa, orang tua seperti ini adalah orang tua yang paling banyak jenisnya, memiliki tanggal lahir yang gampang dan mudah diingat. 17 Agustus.

Saya sendiri pernah bertanya pada ibu saya tentang asal-usul nama saya. Lalu beliau menjawab dengan rinci dan detail sampai pada proses beliau melahirkan saya, menamai saya, membetulkan tidur saya waktu bayi jika tidur saya miring biar kepalanya tidak peyang, mengajari saya berjalan, dan banyak lagi. Beliau bilang, nama saya diberikan oleh Uwak saya. Kakak dari ibu saya. Kakak dari ibu saya adalah seorang kyai dan ulama panutan di desa. Seluruh desa adalah murid ngaji Uwak saya. Beliau dihormati dan disegani sampai-sampai kalau orang di desa ada yang sakit, minta obat di sana. Dengan metode penyembuhan mistik memakai doa, spidol, dan air putih. Uwak saya juga sering jadi juru runding antar dua tetangga yang bertengkar hebat seperti dua ekor kucing senewen hingga ketua RT di wilayahnya tak bisa mengendalikannya. Uwak saya jadi tujuan bersilaturrahim jika lebaran tiba. Uwak sayalah orang yang dicari jika ada orang kesurupan. Uwak saya juga jadi orang yang dicari untuk diminta pertolongan jika bayi-bayi di desa kesulitan bertahan hidup setelah terlahir. Uwak saya bahkan menamai banyak anak-anak yang terlahir yang sampai hari ketujuh orang tuanya tak kunjung menemukan nama yang cocok. Orang-orang di desa sebelum datangnya era Uwak saya menjadi panutan, sembarangan sekali menamai anaknya hingga ada orang yang bernama Runtah (bahasa Jawa dari sampah), Ribut (bahasa Jawa dari kekacauan), Glodok (bahasa Jawa dari kepala besar), Kintel (bahasa Jawa dari kodok), Tobat, Rawan, dan lain-lain.

Untuk menghormati Uwak saya, ibu meminta Uwak saya untuk memberikan nama pada saya. Diberilah nama itu. Islami sekali. Seperti kebanyakan lelaki muslim, bernama depan Mohamad. Biar jadi ustadz, kata Uwak saya. Lebih lengkapnya nama saya adalah terinspirasi nama dari saudagar kerabat dari Sunan Ampel. Hal ini saya ketahui setelah saya beranjak besar dan mencari juntrungan dengan banyak membaca, saat itu membaca buku tentang Wali Songo.

Ibu saya sendiri sebenarnya adalah orang yang sangat awam. Tipikal perempuan Jawa yang manut, tak banyak mau, terimaan. Beliau tidak pernah tahu nama saya artinya apa dan tidak pernah berusaha mencarinya. Asal berbahasa Arab, maka baguslah nama itu. Seperti doa. Padahal tidak semua kata dalam bahasa Arab itu doa. Tapi tak apa, di dalam sebuah pertandingan sepakbola Indonesia Vs Yaman yang saya tonton langsung di Bandung beberapa tahun lalu, banyak orang berteriak, “Aamiin!” saat nama-nama pemain Yaman disebutkan. Maka ibu saya bukan termasuk kaum minoritas. Awam adalah hal yang jamak di negeri kita ini.

Saking awamnya ibu saya, dan juga bapak saya, mereka berdua pun tak pernah mengingatkan atau memberi ucapan apapun saat tiba hari kelahiran saya dari tahun ke tahun. Sampai saya memasuki usia sekolah. Tapi di sekolah pun, anak-anak lain, kawan-kawan satu kelas saya tak pernah ada yang merayakan hari ulang tahun. Dosa dan bukan budayanya, kata para orang tua jika anaknya bertanya kenapa tidak pernah dirayakan hari lahirnya. Anak-anak satu desa pun kompak menuruti mitos turun-temurun para orang tua dari orang tua dan orang tua dari orang tua mereka. Kakek moyang kita. Maklum, anak-anak di desa begitu patuh dan takut dosa.

Hal itu berlangsung sampai saya lulus sekolah dasar dan memasuki sekolah menengah. Di SMP, yang kebetulan saya lolos masuk ke sekolah favorit satu kecamatan, saya baru menjumpai anak-anak yang lahir dari keluarga modern yang orang tuanya mengucapkan, bahkan merayakan hari ulang tahun anaknya. Tapi saya tak pernah merayakannya. Saya terbiasa tidak merayakan kegiatan ini sampai-sampai saya lupa kegiatan ini harus dirayakan pada tanggal berapa. Kawan, ini sungguh. Kalau kita biasa dilupakan, kita juga akan terbiasa melupakan. Saya tak ingat betul hari kelahiran saya. Kalau pun saya ingat, saya ragu hari kelahiran itu apa benar-benar hari kelahiran saya. Mungkin saja di setiap surat kependudukan, hari kelahiran saya berbeda-beda seperti hari kelahiran bapak saya di berbagai surat catatan sipil. Maka jadilah dari tahun ke tahun saya tak pernah merayakannya karena saya tak biasa. Satu-satunya orang yang ingat hari kelahiran saya adalah seorang perempuan pendiam (lebih tepatnya, mendiamkan saya, atau saya yang mendiamkannya, atau kami saling diam) yang sebut saja bernama Bunga di kelas saya. Itu pun selama tiga tahun hidup satu kelas, baru ia mengucapkannya pada kelas tiga. Menjelang perpisahan kelulusan. Itu pun diucapkan melalui buku diari. Itu pun buku diari entah milik siapa. Itu pun tidak menyebut nama saya dan hanya menyebut hari kelahiran saya saja. Itu pun kalau saya tidak baca buku itu, saya tidak pernah tahu. Itu pun saya dipaksa membacanya oleh teman saya. Itu pun saya tak yakin dari seisi kelas, cuma saya yang memiliki hari kelahiran itu. Tapi tidak mengapa, orang yang terbaik punya rasa malu yang besar. Bahkan untuk menunjukkan perhatian pun malu apalagi untuk melakukan kejahatan.

Tahun demi tahun berlalu. Beranjaklah saya lulus sekolah dan harus masuk sekolah menengah tingkat atas. STM. Saya memilih STM karena saya mengidap ketakutan tak beralasan berurusan dengan perempuan. Venustraphobia namanya. Dan ini lagi, kawan. Pengaruh sebuah kebiasaan. Terbiasa didiamkan, akan membuat orang-orang menghindari sesuatu yang mendiamkannya. Maka saya menghindari pertemuan-pertemuan dengan para perempuan di hari-hari sekolah menengah tingkat atas saya. Sudah cukup tiga tahun saya saling diam di SMP. Jangan sampai berlanjut ke tingkat sekolah berikutnya. STM saya pilih. Sekolah yang semua siswanya adalah laki-laki.

Di STM, saya berkawan dengan bencoleng-bencoleng preman puber masa sekolah yang sedang giat mencari jatidiri dan mencari nama. Saya yang sudah nakal dan bandel dari sejak belum bertemu mereka, jadi makin tidak karuan. Tawuran, mengamen, ditangkap polisi, memalak, membolos, adalah hari-hari saya. Orang-orang dari golongan ini, bahkan hidupnya sendiri pun tidak disayang apalagi menyayangi hidup orang. Apalagi mengingat hari lahir kawannya, wong ulang tahun sendiri pun persetan. Maka cocoklah saya di lingkungan ini.

Tahun pertama di sekolah, saya merasa cocok. Tahun kedua ternyata berbeda, ternyata saya semakin cocok sekali. Saya pun betah. Tapi pada tahun itu, paman saya membuka radio kampung di desa. Bermodalkan tiga buah tape, kaset pinjaman, kertas atensi yang dijual perlembar lima ratus rupiah, dan alat-alat seadanya, paman saya membuat siaran radio. Saya didapuk menjadi penyiarnya untuk bersiaran pada jam musik pop. Maka saya mengurangi kenakalan saya di sekolah untuk menjadi penyiar radio kampung yang baik.

Karena siaran radio, digantilah nama saya yang islami dan religius itu menjadi Dedo Dpassdpe. Karena biar tidak terkesan salah tempat, siaran musik pop kok namanya berbau pesantren. Cool sekali nama itu saya pikir. Agak rumit nama belakangnya tapi. Jika Shakespeare bertanya pada saya apalah arti sebuah nama, maka nama itu keren sekali jika saya sampaikan tanpa harus menjelaskan artinya. Tapi sebenarnya Dpassdpe adalah sebuah singkatan dari tanggal lahir. Saya menentukannya sembarang. Dpassdpe terbesit begitu saja tanpa utak-atik yang njlimet. Keluar dari otak begitu saja seperti kudanil menguap. Tanpa harus minta petunjuk kyai. Tanpa harus menunggu tujuh hari. Tapi Dpassdpe juga terkesan keren dan pantas menjadi penyiar musik pop meskipun radionya hanya radio kelas kampung yang kalau hujan tidak ada siaran, yang siarannya cuma di prime time saja. Dpassdpe terkesan rumit dan keren (saya tidak habis pikir kenapa orang yang sok rumit merasa dirinya keren) seperti nama orang Eropa yang berawalan David, Steven, dan sebagainya. Setingkat lebih mudah dibanding nama belakang Arnold, nama kiper Arsenal, dan nama terduga pengebom Boston.

Tapi memang dasar orang udik, biar nama dibuat macam apa sekali pun tetap kampungan. Hari pertama siaran, musik diulang-ulang itu-itu saja karena kami kekurangan kaset. Hari berikutnya, musik sering berhenti di tengah jalan karena salah memutar kaset atau yang lebih parah adalah pita kasetnya nglolor. Minggu pertama, suara saya masih bocor jika musik sudah diputar karena saya lupa mematikan michrophone. Minggu berikutnya saya bosan karena yang membeli atensi orang-orang itu saja. Amatir sekali radio kampung kami. Sebulan kemudian radio ditutup karena teman saya (masuklah ke surga kawan saya, Ibnu Kholdun) meninggal dunia kesetrum antena relay yang dipasang maksudnya untuk memperbesar jangkauan siaran radio. Maka tamatlah nama Dpassdpe dalam usia sebulan.

Tapi ternyata nama itu berguna untuk mengingatkan hari lahir saya. Saya yang setelah dewasa mencari-cari asal-usul dan menemukan bahwa hari lahir saya sama dengan hari lahir Muhammad, orang terbaik sedunia versi buku Michael H. Hart, dan Adolf Hitler, orang terjahat sedunia versi buku yang sama, baru sadar ternyata hari lahir saya gampang diingat seperti hari lahir kebanyakan orang tua yang kompak di tanggal 17 Agustus. Tapi nama itu berguna untuk mengenalkan diri saya. Jika saya mencorat-coret tembok dengan cat Pilox saat membolos sekolah, saya bangga menuliskan nama itu. Meski teman-teman saya tidak ada yang tahu arti nama itu. Nama itu pun menjadi semacam sayembara, jika yang sukses menebak adalah pria maka saya anggap sahabat. Jika yang berhasil menebak adalah perempuan, maka terserah orang itu mau menganggap saya apa. Pacaran boleh, berteman juga tak apa. Hal ini berlangsung sampai tahun 2006. Saya sudah tinggal di Jakarta. Tidak ada yang tahu arti nama itu, sampai seorang perempuan datang dalam hidup saya dan menanyai segala hal tentang saya. Nama saya itu pun ditanya apa maksudnya, tapi saya tidak menjawabnya. Maka diutak-atiklah nama itu sampai empat tahun kemudian kami yang sempat terpisah dipertemukan kembali. Dia datang dengan membawa sebuah tebakan. Hampir tepat. Karena sudah berjanji akan menerima dirinya jika dia berhasil menebak nama saya, dan kebetulan saat itu saya single, maka saya menerimanya. Kami pun jalan.

Tapi ternyata bukan dia satu-satunya orang yang ingin tahu nama itu. Banyak orang yang bertemu saya, di dunia nyata, di tempat kerja, di perkumpulan pertemanan, di internet, di Facebook, di Twitter, di BBM, di mall, di pasar, di mana saja selalu ingin tahu nama yang aneh dan sok rumit itu. Maka semakin banyak orang yang menginginkan mengetahui apa artinya, semakin banyak orang yang berusaha membongkarnya. Maka terbongkarlah nama itu. Dpassdpe, Dua Puluh April Seribu Sembilanratus Delapan Puluh Enam. Masih muda, kan? Selamat buat siapa saja yang mengira usia saya di atas tiga puluh tahun, empat puluh tahun, dan seterusnya. Selamat buat yang memanggil saya, “Oom,” “Pak,” “Bang,” dan “Kak,” selama ini padahal mereka lebih tua ketimbang saya. Bingo! Dan selamat bagi siapa saja yang berhasil membongkarnya. Eureka! Ah, iya. Buat yang berhasil menebak, hari ini saya masih single lho (kode).

Happy Dpassdpe Day!

Dedo Dpassdpe
Pria yang Rumit dan Njlimet

RETORIKA

Twitter kedatangan warga baru. Belum genap sebulan, belum banyak jumlah tweets-nya, tapi sudah naik drastis jumlah followers-nya. Terang saja, lha wong dia @SBYudhoyono kok, orang dia presiden Indonesia ya jelas populer. Apalagi orang dengan mobil berplat RI 1 ini sudah populer dari zaman dia konon tersiksa di pemerintahan Megawati lalu keluar dari kabinet dan melawan Megawati dengan memosisikan diri sebagai korban. Drama sekali. Tapi memang, playing as victim, atau menjual sesuatu yang menyedihkan itu cepat sekali membuat orang lain iba lalu berpihak kepadanya. Setidaknya Very AFI, Aries Idol, Ikhsan Idol, Kangen Band, dan lain sebagainya telah membuktikan trik ini memang jitu.

Kalau kita iseng pergi ke tab mention-nya, setiap detik kita akan disuguhi reply atau mention lucu dari para penghuni Twitter. Siapa saja bisa seolah-olah mendapat kesempatan untuk berbicara dengannya. Ada yang cuma iseng, ada yang mengajak ngobrol, ada yang menawarkan barang, minta follback, menyindir, menghina, memberi nasihat, sampai ada juga akun Twitter bintang film porno luar negeri yang entah maksudnya apa mengajak bicara dengannya. Betapa kesempatan yang langka. Presiden pun berhak untuk mengabaikan mana-mana yang perlu diabaikan, dan menjawab mana-mana yang perlu dijawab.

Kesempatan berbicara dengan nada apa saja ini sesungguhnya anugerah dari iklim demokrasi. Di zaman Orba, berani bicara dengan sedikit nada sumbang saja mengenai pemerintahan apalagi presiden, maka malam harinya orang itu akan dijebloskan ke penjara, atau dihilangkan dari masyarakat, diculik, dibunuh.

Nah, sebenarnya beberapa pekan sebelum presiden menulis tweets pertamanya, demokrasi kita terancam oleh kemunculan kembali draft pasal tentang penghinaan presiden. Saya tidak pernah habis pikir ada pasal semacam ini. Sebegitunya terancamkah nama baik hingga harus mengancam lebih dulu calon penghina nama baik melalui peraturan? Draft ini sesungguhnya pernah muncul di tahun 2006, saat itu tivi sedang gemar-gemarnya menayangkan acara parodi tentang negara, sedang giat-giatnya menertawakan pemerintah yang pintar dan menertawai diri sebagai rakyat yang bodoh.

Isi draft itu pun sebenarnya rancu (sila browsing sendiri) dan hanya mencerminkan kemunduran demokrasi, menampilkan sikap yang antikritik. Tidak dijelaskan kalimat atau kata-kata mana yang masuk kategori menghina, dan karena ketidakjelasan ini, semua orang bisa saja dijerat oleh pasal ini jika berani menyindir presiden. Pasal yang aneh dan mengada-ada saja. Pasal yang dibuat sekadar untuk menjadi tameng politik atas nama hukum demi melindungi wibawa presiden. Sebuah usaha yang salah, mengharap dicintai dengan mengancam orang-orang yang tidak bersedia mencintai. Bukan dengan melakukan upaya yang mendatangkan penghargaan seperti yang dilakukan Jokowi.

Saya tidak tahu persis dihidupkannya kembali draft itu apa berkenaan dengan munculnya akun Twitter SBY atau tidak. Yang saya yakin adalah kemunculan akun Twitter presiden ini adalah upaya mengangkat kembali citra diri dan citra partai politiknya mengingat selain sebagai presiden, SBY juga menjabat sebagai ketua umum Partai Demokrat. Kedua hal ini tidak bisa dijauhkan dari sikap dan pendirian SBY yang meskipun peragu tapi pandai bermanuver melakukan hal-hal yang sebelumnya ditentangnya dan tabu untuk dilakukan. Saya tahu betul SBY pernah berbicara tentang salah satu tokoh perempuan yang gagal menjadi anggota partainya tapi ngobrol-nya di Istana Negara. Sebuah tempat yang tidak etis untuk bicara tentang sebuah kepentingan golongan, apalagi kapasitasnya sebagai presiden. Saya ingat betul beberapa waktu sebelum SBY diberi kendali untuk mengendarai partainya, dia pernah bilang bahwa menteri-menterinya tidak boleh mengurusi partai. Sekarang apa? Malah dia mengemudikan partai sambil menyetir negara. Standar ganda, melarang orang lain berbuat tapi melakukannya sendiri. Tapi sudahlah, mungkin itu hanya statement untuk menteri, tidak berlaku untuk presiden.

Citra atau pencitraan itu sendiri adalah hal yang lumrah jika orang menginginkan sesuatu. Seperti orang berpacaran, berbaik-baik ketika mengharapkan sesuatu. Begitu pula pencitraan dalam dunia politik. Dibuatnya akun Twitter SBY menjelang dimulainya era pemilihan umum tak ubahnya untuk menaikkan kembali pamor partainya yang belakangan sering tersandung kasus korupsi. Menggunakan SBY sebagai alat untuk mendapat partisan itu tak salah karena SBY pernah sangat populer beberapa tahun lalu. Kepopuleran itu pun sepertinya masih bisa diharapkan jika kita melihat betapa cepat bertambah jumlah followers-nya hanya dalam kurun waktu yang singkat. Saya tidak menyangka ternyata presiden kita sepopuler itu di Twitter, padahal isi Twitternya hanyalah retorika. Padahal orang-orang tahu, dan pernah dalam beberapa waktu lampau saat presiden belum bergiat di Twitter, mengabaikan, menghina, menertawai, dan meninggalkan tidur jika presiden berpidato di tivi. Masih ingat hal ini? Ah, kita sama-sama memiliki standar ganda dan retoris.

Dedo Dpassdpe
Warga Negara

PERDAMAIAN

Semalam saya kecelakaan, tapi syukurlah tidak ada luka berarti, apalagi mati. Puji Tuhan nyawa masih mau bertahan di dalam tubuh saya. Dan jika dihitung selama hidup berapa kali saya ditabrak kendaraan, ini untuk kesekian kalinya. Yang terparah adalah waktu saya berumur enam tahun. Saya dan ibu saya ditabrak mobil jenis seperti Jeep sampai menggenang darah di muka saya. Tapi saya sadar, makanya saya tahu darahnya melumuri muka saya. Ibu saya selamat dan hanya luka ringan, sedangkan saya dirawat sekitar dua minggu di rumah sakit. Dahi kanan saya dijahit dan bekasnya bercokol sampai sekarang, dan hidung saya retak hingga jadi tak simetris-simetris amat. Melihat keadaannya, si penabrak (si penabrak lalu membelikan saya mainan mobil-mobilan remote control jenis Jeep dan memberikannya pada saya di rumah sakit) bilang bahwa saya beruntung karena masih hidup ditabrak separah itu, dan bukan saja hidup, pingsan pun tidak. Ah, sebenarnya si penabrak pun beruntung karena saya masih hidup, karena jika mati dia akan dihantui perasaan bersalah seumur hidupnya.

Dari beberapa kali kecelakaan, jika saya yang terluka, saya selalu sadar dan tidak semaput. Itu pun jika saya yang terluka. Jika tak terluka sama sekali, biasanya saya cenderung meleng macam Undertaker dalam Smackdown yang tidak apa-apa saat dipukuli. Jika ditabrak mobil saya cuma terpental beberapa meter, dan pernah ditabrak sepeda motor, malah si pengendara sepeda motornya yang terpental. Kalau manusia hidup seperti kucing yang bernyawa sembilan, mungkin butuh ditabrak satu hingga dua kali lagi agar hidup saya benar-benar selesai. Ini memang seperti guyon. Percaya tidak percaya. Tapi saya menulis tentang yang saya alami. Saya tidak bercanda tentang kematian, apalagi menyangkut diri sendiri. Orang-orang boleh percaya atau tidak, saya tak peduli. Terserah mereka. Kalau mereka tidak percaya, mereka cuma tak percaya pada saya, saya bahkan tak peduli pada mereka. Saya hidup tak untuk peduli pada semua hal. Benar-benar saya ini seperti kucing, tak peduli dan bernyawa banyak.

Selama saya mengendarai kendaraan terutama sepeda motor, belum pernah saya ditilang. Saya taat berhenti di lampu merah, pakai helm, jaket, dan sepatu jika bepergian di jalan raya. Tidak ada alasan untuk ditilang. Dan jika diberhentikan polisi padahal saya tidak bersalah, saya tetap melaju. Saya tak punya waktu untuk berkompromi, damai, atau apalah untuk sesuatu yang bukan kesalahan saya. Saya pun belum pernah menabrak parah. Kalau hanya menyerempet dan diserempet saja sering, dan berakhir damai hanya dengan kata ajaib, “Maaf…,” sebuah kata yang jarang diucapkan oleh pasangan-pasangan yang memiliki gengsi tinggi. Itu makanya banyak hubungan berakhir hanya karena mereka enggan meminta dan memberi maaf. Dan kecelakaan yang saya alami tadi malam, seharusnya parah karena saya tertabrak cukup keras dan terpental sekitar tiga meter dari sepeda motor saya. Sementara sepeda motor saya masuk ke kolong mobil penabrak itu. Mobil Grand Livina, saya hafal betul nomor platnya seperti saya hafal kejadian kecelakaan saya saat umur enam tahun. Knalpot motor saya tergores, dan beberapa bagian di body motor lecet dan bahkan pecah, juga plat nomor belakang penyok. Kelingking kaki kanan saya luka, lutut kanan lecet, telapak tangan kanan tergesek aspal dan mengeluarkan keringat berwarna merah, pergelangan tangan dan kaki seperti keseleo, dan memang memar. Selebihnya tidak apa-apa. Selop saya terpental ke kolong truk yang melaju di samping kiri saya. Posisi saya berada di antara mobil penabrak dan truk besar. Saat saya jatuh terpental, truk sama sekali tak menghentikan lajunya. Sepertinya hari yang sangat sibuk bagi sopir truk itu yang bahkan untuk sekadar berhenti mengerem pun tak sempat. Untung saya sigap langsung menghindar dengan berguling, jadi terhindar dari terlindas truk. Akan luka lecet banyak karena berguling di aspal jika saya tak memakai jaket. Tapi syukurlah.

Saya datangi mobil itu, tampak si istri atau pacar penabrak di jok kiri depan mobil ketakutan. Beberapa kendaraan berhenti untuk memandangi kami. Dua sepeda motor lewat dan pengendaranya bersemangat bilang, “Hajar, mas!” kepada saya seolah kami adalah sebuah tontonan. Tapi saya memakluminya. Beberapa orang memang tercipta untuk menjadi penonton penyemangat, ngompor-ngompori, penelusup dalam kejadian, dan provokator yang ulung. Itu makanya setiap ada twitwar di Twitter, orang dari jenis inilah yang paling terhibur.

Setelah itu, mobil dan sepeda motor kami singkirkan untuk proses berunding. Dia menawarkan uang seratus ribu rupiah untuk mengobati luka saya, saya menolak. Luka saya tidak apa-apa. Sungguh. Saya terbiasa terluka lebih dari ini (uuhm…, terutama lara hati) dan tetap bertahan. Tak apa. Sepeda motor saya lah yang rusak, meskipun tak perlu diperbaiki pun masih bisa jalan. Tapi dalam kacamata saya, segala sesuatu yang rusak, harus ada yang bertanggung jawab mengganti karena jika tidak, dunia akan terkikis oleh kerusakan-kerusakan yang tidak dibayar. Seperti slogan toko keramik dan kaca, “Pecah berarti membeli.” Jika yang memecahkan tidak membeli, bangkrutlah toko itu. Dan seratus ribu untuk kerusakan tadi itu tidak cukup. Tahun 2005 kakak saya pernah menyerempet mobil dan hanya tergores sedikit, harus bayar tujuh ratus ribu rupiah. Itu tahun 2005. Sekarang tahun 2013. Saya minta ditambah karena jika tidak, maka lebih baik berunding di pos polisi. Lima belas meter dari TKP, di samping mall Ciputra ada pos polisi. Dan polisi ini adalah orang terpercaya dalam hal yang tidak dapat dipercaya, apalagi untuk urusan perundingan damai. Tapi tak apa, saya sedang tak mencari orang yang dapat dipercaya. Saya hanya butuh penengah konflik agar masalah cepat selesai. Lekas damai. Beruntung, tepat saat saya mengajak ke pos polisi saat itu pula iring-iringan polisi bersepeda motor besar yang mengawal entah menteri entah siapa lewat dari arah Taman Anggrek. Dan bunyi sirine motornya meraung-raung bahkan terdengar jauh sebelum sampai tepat di hadapan kami, dan itu berhasil membuatnya untuk cepat-cepat menyelesaikan apa yang dia perbuat. Maka dibayarlah dua ratus ribu rupiah. Masalah selesai dengan damai, tanpa perlu penengah konflik, tanpa perlu polisi. Kami pun pulang.

Sesampainya di kost, luka hanya saya siram air dan percaya saja bahwa waktu akan menyembuhkannya. Maklum, saya tak biasa berobat. Sepeda motor memang rusak seperti yang saya lihat saat mengkalkulasikan kerugian sehabis kecelakaan. Tapi tak perlu diservis apa-apa. Uang seratus ribunya saya kasih ke pembantu kost saya, Mbak Tari. Sisanya saya belikan mie goreng dan minuman buat para pekerja saya yang semalam lembur sampai tengah malam. Mereka, Mbak Tari dan karyawan saya serta tentu saja saya dalam posisi korban kecelakaan itulah orang-orang yang perlu dilindungi sesuatu bernama perdamaian. Dan perdamaian hidup bisa diperoleh dengan berbagi kebahagiaan. Membagi apa yang kita punya. Sebab, kebahagiaan akan berakhir menyedihkan jika kita tidak punya seseorang sebagai tempat untuk berbagi.

Sebelum kecelakaan semalam, saya menonton film di bioskop Citra XXI, Ciputra Mall. Masuk beberapa menit terlambat untuk film Tampan Taylor. Saya beli tiket film dan karena telat, tiketnya langsung disobek di kasir, bukan di tukang sobek tiket di pintu masuk studio. Dan langsung disuruh masuk, tapi saya malah salah masuk studio yang memutar film G.I. Joe Retaliation. Awalnya saya kira studio lagi memutar trailer, tapi kadung sudah duduk nyaman ya sudah, saya teruskan menonton. Padahal dua hari sebelumnya saya sudah menonton film pasukan perang Amerika ini. Sampai saya hafal adegan-adegannya. Sampai saya ingat bahwa film itu bercerita tentang perdamaian dunia lewat perang (Saya heran, mereka memanggul senjata kok mengatasnamakan perdamaian). Sampai saya tahu Amerika itu seperti polisi yang kadang-kadang terlihat seperti membantu masalah dunia, tapi sebenarnya masalah itu diciptakan mereka sendiri. Seperti polisi, kadang-kadang terlihat seperti menyelesaikan masalah teror, obat-obatan terlarang, korupsi, premanisme, tapi sebenarnya masalah itu mereka yang rawat sendiri demi dipetik buahnya saat ada kasus besar untuk mengalihkan isu, atau untuk menaikkan pangkat, atau untuk bonus. Amerika dan polisi itu sama saja, makanya Amerika disebut polisi dunia. Mereka seperti orang-orang dengan standar ganda di jalanan yang mau berkendara lancar tapi mereka sendiri tak patuh rambu dan bikin macet. Mereka berdua seperti tukang tambal ban yang membantu kendaraan yang mengalami bocor ban oleh kebocoran yang dilakukannya sendiri. Tampak prihatin saat mencabut paku yang tertanam di ban, padahal paku itu adalah ranjau yang ditaburnya sendiri. Ini yang harus kita perangi. Kita hidup di dalam perdamaian yang diciptakan oleh pelaku-pelaku perang. Betapa jenaka mereka, menciptakan perang dari tempat perundingan perdamaian, lalu merakit senjata menjadi pagar untuk melindungi perdamaian. Rakyat biasa macam saya terlihat seperti tanaman yang sebentar lagi akan dimakan pagar. Menyeramkan.

Melihat film ini, saya jadi teringat kasus penyerangan Lapas Cebongan belum lama ini yang pelakunya adalah ternyata anggota Kopassus. Mereka membunuh preman tersangka pembunuh anggotanya. Membasmi premanisme dengan cara premanisme. Mungkin demi kesetiakawanan. Tapi saya takkan bercerita banyak tentang ini, berita tivi, internet, dan headline koran belakangan ini sedang gencar memberitakannya. Sudah jelas berita di sana tanpa perlu saya jelaskan. Yang tidak saya mengerti adalah apa yang ditanamkan kepada mereka hingga jika salah satu anggota di kesatuannya hilang nyawa, maka harus dibayar nyawa. Tidak peduli yang menghilangkan nyawa itu warga sipil atau polisi. Itu makanya sering terjadi berita TNI – Polri bentrok, saling membakar markas lawannya. Sebuah pertarungan antar institusi yang sebenarnya berdiri demi menciptakan dunia yang aman, menjaga perdamaian. Sebuah kekonyolan. Betapa menghibur.

Kata ‘Damai’ sendiri oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia bisa berarti aman, tidak ada perang, rukun, dan lain sebagainya. Kata ini berarti masalah terselesaikan dengan rukun jika berhubungan dengan polisi dan pelanggar lalu lintas. Berarti juga hal yang sama jika korelasinya dengan si penabrak dan yang ditabrak, masalah selesai dengan rukun, baik-baik. Seperti saya dengan si pengendara mobil itu.

Hidup sebaiknya seperti bermain bom bom car di arena yang sempit dengan mobil bom bom car yang berjubal, penuh persinggungan, penuh benturan, tapi mereka tetap tersenyum menikmatinya. Seorang teman saya bilang, jangan hidup di jalanan apalagi jalanan Jakarta jika bersenggolan sedikit pun saling memaki, saling mengumpat, saling anjing-menganjingi. Dan jika perselisihan dan persinggungan di kehidupan sehari-hari tak bisa diselesaikan dengan damai seperti yang dialami saya dan penabrak saya, maka tamatlah riwayat perdamaian.

Dedo Dpassdpe

Juru Damai Amatir

BOSAN

Setelah beberapa tahun lalu dunia dilanda Shuffle Dance, setahun kemudian dunia diguncang goyangan bernama Gangnam Style. Orang-orang dijangkiti euphoria budaya populer yang cepat sekali berubah dan diganti dengan yang baru. Tarian demi tarian dibuat, dolanan demi dolanan tiba demi mengobati rasa bosan menjalani hidup, demi mengakomodir perjalanan hidup sebagai manusia tanpa mereka tahu sesuatu yang berubah-ubah begitu cepat itu juga ternyata jadi membosankan. Dan sebulan yang lalu, lagi-lagi sebuah tarian populer mewabah di masyarakat. Harlem Shake namanya. Saya menyebutnya tarian kebosanan karena artis atau penari di dalamnya menampilkan sebuah kebosanan tak terperi sebelum tarian dimulai. Tarian yang orang-orang yang di dalamnya menyentil rasa bosan menjalani sesuatu. Seperti sebuah intermezzo kehidupan.

Sebuah hal yang tampaknya kecil tapi dampaknya besar adalah kebosanan. Tapi bosan itu manusiawi. Semua orang dari balita sampai manula pernah mengalaminya. Seperti keponakan saya yang baru berusia lima tahun yang beberapa hari lalu minta dibelikan iPad karena bosan dengan dolanan tradisionalnya yang selama ini sering dimainkan (saya umur sembilan tahun masih bergulat dengan mainan dari tanah liat dan sekarang usia lima tahun mainannya sudah berharga jutaan, heran). Sehari setelah dibelikan tablet, dia terlihat bosan karena tak bisa memainkan permainan di dalamnya. Dua hari diajari cara memainkan game di dalamnya, dia sudah bosan dan minta di-download-kan permainan baru. Sehari setelah diunduhkan permainan baru, dia bosan lagi karena iPad tetangganya jauh lebih bagus dan jadi tahu iPad-nya ternyata selama ini tak asli. Bikinan China. Atau seperti bapak saya yang pernah beberapa tahun lampau merasa begitu bosan dengan sakit perutnya yang berjam-jam tak kunjung sembuh, beliau mengolesi sampai habis sebotol kecil minyak kayu putih di perutnya. Tak sembuh, dipakailah minyak gosok yang lebih kuat. Minyak angin. Belum reda sakit perutnya, dituanglah setengah botol minyak angin itu ke dalam segelas air minum dan diminumlah air itu. Mungkin maksudnya biar obat langsung menyerang titik sakitnya dan bisa cepat sembuh. Inovatif. Superb. Benar-benar sebuah kebosanan memang menggiring manusia pada perubahan dan ide-ide cerdas yang tak pernah terduga sebelumnya. Semenit setelah mengkonsumsi ramuan ajaib itu, sakit perutnya bertambah hebat dan semakin melilit. Ibu saya terpingkal-pingkal melihat tingkah konyol bapak saya itu. Hahaha…, benar-benar kebosanan itu memang seperti sebuah kekhilafan pada orang-orang yang sehabis berbuat salah atau berbuat sebuah kekonyolan pada bapak saya itu, manusiawi. Begitu lekat dengan manusia. Manusiawi, karena bosan adalah sifat yang diwariskan turun-temurun dari kakek moyang manusia. Adam. Konon, jauh sebelum Tuhan mendatangkan Hawa pada Adam, lalu diturunkan di bumi dan dipisahkan lalu saling berjuang melakukan pencarian satu sama lain, Adam lebih dulu mengalami kebosanan maha berat hidup sendirian di surga. Jika tidak, tak mungkin beliau menuntut Tuhan menciptakan makhluk yang konon adalah pelengkap tulang rusuknya.

Perubahan

Kebosanan itu menuntut perubahan. Sebab sesuatu yang tetap dan konsisten itu membosankan. Bahkan bertahan pada sesuatu yang menyenangkan seperti tinggal di surga yang dijalani Adam sekali pun membosankan, apalagi bertahan pada hal-hal yang jelas-jelas membosankan. Maka barangkali baiknya sifat bosan adalah pada kenyataan bahwa beberapa perubahan terjadi atas dasar kebosanan. Memang tak semua perubahan itu baik, tapi hal-hal yang tidak berubah yang mendatangkan kebosanan itu hampir pasti tidak salah untuk diubah. Tapi atas dasar itu, datangnya kebosanan bukan berarti baik dan harus disikapi dengan bersantai-santai. Bosan harus diatasi dan dihilangkan karena jika diendapkan lama-lama akan terakumulasi menjadi sesuatu yang menyeramkan seperti mati rasa atau mati yang sesungguhnya sebab bosan itu sudah sampai di tingkatan bosan hidup.

Selain hal-hal yang tak berubah dan mudah berubah itu membosankan, terlalu mudah bosan juga membosankan. Maka barangkali bertahan adalah pilihan yang terbaik jika kenyataannya itu adalah konsisten dan setia pada sesuatu yang baik meski membosankan, dan bosan menjadi baik apabila ternyata yang kita pertaruhkan untuk konsisten, tetap, dan setia ternyata tak bagus-bagus amat untuk dipertahankan. Ternyata lebih menarik saat berubah atau diubah. Dan dengan perubahan-perubahan yang meski konyol, kita tahu betapa membosankan hidup tanpa kebosanan, dan betapa membosankan bosan tanpa perubahan.

Bertahan

Ada sebuah filosofi China yang mengatakan bahwa melakukan hal yang membosankan lebih lama, justru akan membuatnya menarik. Kita tak akan merasa bosan lagi karena sudah terbiasa dan kebal menjalaninya. Maksudnya, jika kita melakukan sebuah pekerjaan seperti belajar filosofi dan memahami hidup yang rumit dan membosankan, atau membaca dan mencoba memahami tulisan ini yang begitu membosankan, bertahanlah lebih lama lagi. Dengan bertahan dan melakukan kegiatan yang membosankan lebih lama dari biasanya dan lakukan lagi esoknya dengan lebih lama lagi, maka kita akan menjadi lebih kebal terhadap serangan kebosanan. Semoga.

Dedo Dpassdpe
Pembosan