Quo Vadis Indonesia

pemilu

Menurut Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Aristoteles berkesimpulan bahwa usaha memaksimalkan kemampuan individu dalam mencapai bentuk kehidupan sosial yang tinggi adalah melalui interaksi politik dengan orang lain. Interaksi itu terjadi di dalam suatu kelembagaan yang dirancang untuk memecahkan konflik sosial dan membentuk tujuan negara.

Aristoteles melihat politik sebagai kecenderungan alami dan tak dapat dihindari oleh manusia, misalnya saat ia mencoba untuk menentukan posisinya dalam masyarakat, ketika ia berusaha meraih kesejahteraan pribadi, dan ketika ia berusaha memengaruhi orang lain agar menerima pandangannya. Benar memang jika politik tak mungkin bisa kita hindari, sebab seanti-antinya kita terhadap politik, tetap saja apa yang kita makan, harga baju yang kita pakai, harga rumah yang kita tempati, pendidikan yang kita dapat, ongkos kesehatan yang mesti kita bayar, biaya hidup, dan lain sebagainya tergantung oleh sebuah keputusan politik.

Jika Aristoteles bilang bahwa politik adalah sebuah upaya untuk mewujudkan kebaikan bersama, Soe Hok Gie berbeda. Menurut Soe Hok Gie, politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur yang kotor. Saya rasa saya mesti menyetujui keduanya, setuju pada Aristoteles bahwa politik memang tak mungkin bisa kita hindari, dan setuju pada Soe Hok Gie bahwa politik adalah lumpur yang kotor. Kotor karena di dalam politik selalu saja ada kisah pengkhianatan, ingkar janji, korupsi, kolusi, nepotisme, intrik, kudeta, pembunuhan, penculikan, penghilangan orang, penghambur-hamburan uang, dan penghalalan berbagai cara demi mencapai posisi sosial yang tinggi, atau lebih daripada itu, untuk memperkaya diri-sendiri.

Saya tak begitu paham tentang politik. Perkenalan saya dengan politik diawali pada masa musim Pemilu 1997. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, usia yang masih terlalu prematur untuk memahami tetek-bengek persoalan negara. Ketika itu, yang saya ingat selain seorang guru saya di sekolah dasar menyuruh saya untuk mencari tahu apa itu arti kata krisis moneter, juga bahwa bapak saya adalah seorang pengurus Partai Persatuan Pembangunan (waktu itu masih berlambang bintang) di tingkat desa. Partai pada waktu itu hanya PPP, Golkar (Golongan Karya), dan PDI (Partai Demokrasi Indonesia), dan meskipun partai dibedakan menjadi tiga macam menurut asasnya masing-masing, oleh tekanan politik Orde Baru yang sewenang-wenang, semuanya diseragamkan agar memakai lambang berbentuk segi lima sebagai lambang asas Negara Pancasila, sebagai cerminan Demokrasi Pancasila yang konon dianut oleh pemerintahan Soeharto, sebuah omong-kosong politik, kata bapak saya.

Karena bapak saya menjadi pengurus PPP (satu-satunya partai yang berhaluan Islam pada masa itu), saya pun mendukung PPP dan sedemikian anti pada Golkar yang menjadi kendaraan politik pemerintah pada masa itu. Apalagi kala itu, perlawanan-perlawanan kepada partai penguasa itu mulai bermunculan, benih-benih revolusi mulai lahir, anak-anak muda yang kritis mulai menunjukkan taringnya, mahasiswa mulai berani melawan kesemena-menaan. Megawati, salah seorang anak dari Soekarno yang selama era Orde Baru dikucilkan, mulai berani memberontak melawan pemerintah dengan menggandeng massa non Golkar dan membentuk sebuah wadah aliansi baru bernama Mega Bintang, yaitu gabungan massa PDI Pro Mega dan PPP (beberapa orang bahkan mengartikan Mega Bintang sebagai gabungan kekuatan antara Megawati dengan Sri Bintang Pamungkas, keduanya adalah musuh politik Soeharto). Kekuatan anti Golkar yang dibangun oleh para tokoh demokrasi pada massa itu mulai memunculkan sebuah ungkapan Asal Bukan Golkar (ABG) di kalangan rakyat, ketidaksukaan saya pada Golkar pun semakin menjadi-jadi.

Pernah satu kali, di saat rombongan berpuluh-puluh mobil, truk, dan sepeda motor dari kampanye Golkar melintas di depan rumah saya, dengan polosnya saya teriak, “HIDUP BINTANG!” pada mereka. Salah satu orang di atas truk, saya ingat betul kalau dia mempunyai wajah yang jelek, penuh dengan coretan di mukanya, dan memakai ikat kepala berwarna kuning, meludahi saya yang berdiri di pinggir jalan saat menyaksikan iring-iringan mobilisasi massa. Sebuah perkenalan yang buruk yang akan saya ingat sepanjang kepala saya mampu mengingat. Politik, datang dan menyapa saya yang masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu demokrasi dengan cara yang kotor.

Tahun berikutnya, saya semakin menjadi lumayan mengerti apa itu politik ketika tetangga saya pulang dari sekolahnya (SMA) dengan memakai sepeda motor yang dicoret-coreti ‘REFORMASI TOTAL’ di beberapa bagian, serta helmnya juga. Ketika saya tanyakan apa yang terjadi, dia menjawab, “Di Jakarta ada demo. Soeharto didemo! Reformasiiii!!!” jawabnya menggebu-gebu seperti seorang anak mendapatkan hadiah sepeda di hari ulang tahun. Saya yakin selain saya, dia sendiri pun tak tahu apa maksudnya reformasi. Tapi saya diam tak bertanya, dan itu berarti membuat dirinya aman karena tak perlu bersusah-susah menjelaskan, dan juga membuatnya berpikir bahwa saya paham karena saya tak menanyakan. Politik kali ini, saya kenal sebagai sesuatu yang rumit untuk dipahami.

Yang selanjutnya datang adalah kegembiraan ketika era keterbukaan politik dimulai, kran demokrasi dibuka, dan semua orang tiba-tiba mendirikan partai politik. Saya pun tak ketinggalan membaca dan mengamati partai-partai apa saja yang tertera di selebaran poster yang memuat gambar partai peserta Pemilu saat itu. Waktu itu jumlah partai ada 48. Terlalu banyak dan membingungkan mengingat selama bertahun-tahun partai di Indonesia dibatasi hanya boleh ada tiga saja dan ketiganya pun dipaksa seragam untuk memakai lambang berbentuk segi lima. Ini menggelikan, betapa reformasi membuat mereka seperti segerombolan pesepeda motor di lampu merah yang jika lampu hijau menyala, berhamburan mereka seolah baru dibebaskan dari penjara kejam di sebuah rezim yang maha zalim.

Ketertarikan saya dalam mengikuti percaturan politik dimulai pada Pemilu 1999 yang berlanjut ke pemilihan presiden oleh DPR/MPR. Kemenangan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di pemilihan presiden pada saat itu, meski pun oleh banyak pihak disebut sebagai kecelakaan sejarah, adalah kebahagiaan saya dan bapak saya (kali ini bapak saya adalah ketua tingkat desa Partai Kebangkitan Bangsa) yang dengan tekunnya menonton televisi dari siang sampai Maghrib dan turut berteriak seperti sedang menonton pertandingan sepakbola ketika petugas pemilihan presiden membuka surat suara dan membacakan dengan lantang, “YANG MULIA GUS DUR!”, “ABDURRAHMAN WAHID!”, dan sebagainya saat melakukan penghitungan suara. Maklum, saya sekeluarga tumbuh dalam lingkungan pesantren, mendapat seorang pemimpin negara yang merupakan seorang kiai adalah sebuah kegembiraan dan kemenangan besar. Apalagi sebelum Pemilu, kaum santri dan kiai diteror dengan isu ninja dan pembunuhan yang membuat gentar siapa pun dari kalangan Islam yang berani terjun ke politik praktis. Saya ingat waktu itu tengah malam saya yang masih kecil, dan kawan-kawan sedesa, dipersenjatai rotan untuk menjaga rumah dan nyawa seorang ulama di desa yang adalah uwak saya.

Sampai lalu tiba era Gus Dur dimakzulkan oleh Ketua MPR, Amien Rais, seorang yang notabene mengusungnya sebagai presiden, dan Megawati, wakilnya sendiri (Gus Dur di kemudian hari berdoa semoga cukup sampai pada dirinya saja presiden di Indonesia yang jabatannya dihentikan di tengah jalan, dan doanya terwujud setidaknya sampai sekarang), saya kemudian tak begitu tertarik untuk mengikuti Pemilihan Umum apa pun, baik pemilihan partai atau pun pemilihan calon presiden dan wakilnya. Selain memang tak pernah tertarik dengan calon-calon yang disediakan, juga karena saat itu menurut saya, tidak memilih adalah sebuah pilihan. Dan konsekuensi yang harus saya terima adalah, negara sudah pasti dipimpin oleh seorang yang tak pernah saya pilih. Tetapi meski tak tertarik dengan calon-calonnya, saya selalu mengikuti perkembangan politik, saya juga bersedia ketika dimintai menjadi seorang panitia di TPS (Tempat Pemungutan Suara), dibayar dengan makan siang dan snack.

Saya semakin apatis ketika Pemilu 2009 menyediakan calon yang hanya itu-itu saja. Tokoh-tokoh tua yang cuma ingin memajang potret dirinya di Istana Negara demi ditulis dalam buku sejarah untuk kemudian menjadi dikenang oleh anak-anak sekolah. Saya tak tertarik pada Pemilu selain karena visi-misi yang ditawarkan oleh mereka biasa-biasa saja dan tak membawa kebaruan, juga karena tokoh-tokoh jenderal dalam Capres-Cawapres pada masa itu punya masa lalu yang buruk dan pernah menjadi alat di masa Orde Baru untuk melenggangkan kekuasaannya.

Kemudian sampailah kita di musim Pilpres 2014. Saya antusias karena Pilpres kali ini begitu riuh melahirkan banyak harapan, semangat, dan kengototan yang bertebaran di sana-sini. Apalagi Pemilu kali ini hanya diikuti oleh dua pasang Capres-Cawapres, maka tensi antar kedua kubu pun benar-benar panas dan terlalu menarik untuk diabaikan begitu saja.

Pasangan Capres-Cawapres nomer urut satu adalah Prabowo Subianto dan Hatta Radjasa yang diusung oleh Partai Gerindra dan berbagai partai pendukung, membawa harapan akan adanya sebuah negara yang kuat dan ditakuti oleh negara lain dengan slogannya ‘Macan Asia’. Sedangkan pasangan nomer urut dua adalah Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi dan Jusuf Kalla yang diusung oleh PDI-P dan partai pendukung lainnya, menawarkan sebuah revolusi dan kebaruan pada bangsa ini dengan ide-idenya yang cemerlang. Keduanya menawarkan visi-misi yang baik dan menjanjikan membawa negara ini menjadi maju, berwibawa, berdikari, berdaulat, adil, makmur, dan disegani oleh negara lain.

Namun pada prosesnya, caci-maki, fitnah, kekerasan, teror, dan aksi saling ejek-mengejek pun tak bisa dihindari. Politik, yang ketika kecil saya dengar istilah itu pertama kali lewat lagu Iwan Fals berjudul Sumbang yang sering diputar oleh abang saya di rumah, benar-benar begitu kejam dan menghalalkan berbagi cara hanya demi memenuhi ambisi mencapai sebuah posisi.

Pemilu yang semestinya membawa kegembiraan, sayang sekali menjadi demikian kotor oleh ulah beberapa orang yang dengan kejam melakukan fitnah menyebar kebohongan demi menjatuhkan lawan, begitu bodoh melakukan vandalisme, begitu naif menggunakan simbol-simbol yang melukai kemanusiaan, dan begitu buruk melakukan black campaign seolah-olah ingin memecah-belah bangsa.

Namun di balik semua itu, saya percaya bahwa Pemilu akan berjalan lancar jika pihak yang kalah bisa bersikap menerima seperti seorang Gus Dur yang mengatakan, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” saat massanya marah ketika beliau diturunkan dari jabatannya.

Politik, biar bagaimana pun adalah sebuah jalan. Ia bisa saja kotor dan penuh dengan comberan. Dan sebagaimana saya menganalogikan bahwa politik adalah sebuah jalan, maka hal itu bisa mengantar kita pada tujuan bernama kebaikan bersama seperti yang dicita-citakan Aristoteles, atau tak membawa kita ke mana pun (status quo) dan tetap tinggal pada kubangan kotor itu, atau menjerumuskan kita menjadi manusia yang sedemikian busuk dan menjijikan. Kita lah yang akan menentukan akan ke mana kita membawa negara ini. Pilihan ada pada kita sendiri, rakyat, sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Maka marilah kita sebagai rakyat, turut mengambil bagian menentukan arah bangsa yang sedang mencari bentuk terbaiknya dalam berdemokrasi dimulai dengan menentukan siapa yang layak memimpin negara ini.

Jokowi seorang yang baik, tak punya masalah pada masa lalu, penuh ide, tegas, berorientasi kerja, dan berjibun prestasi ketika menjabat wali kota Solo ataupun gubernur Jakarta. Prabowo pun penuh gagasan besar, tegas, berwibawa, dan penuh prestasi saat masih di TNI meski kemudian ia diberhentikan karena bermasalah yang saya harap beliau mau menyelesaikannya sesegera mungkin, demi memberi keadilan pada rakyat. Keduanya saya yakin sangat mencintai negeri ini. Keduanya punya visi-misi yang baik dan punya cita-cita besar pada Ibu Pertiwi. Keduanya hanya dibedakan dari karakternya. Jokowi seorang yang tegas tapi kalem, sedangkan Prabowo adalah seorang yang tegas namun cenderung keras. Kitalah sebagai rakyat yang menentukan, yang mana menurut kita layak untuk dipilih.

Untuk pendukung Jokowi, harus saya akui bahwa Jokowi memang membawa harapan untuk perubahan Indonesia yang lebih baik, prestasi-prestasinya di Solo yang membuatnya masuk ke jajaran wali kota paling berpengaruh di dunia, atau di Jakarta yang membawanya masuk ke dalam daftar 50 pemimpin hebat dalam majalah Fortune edisi April 2014, adalah sebuah hal yang tak bisa dinafikan seberapa besar musuh politiknya memungkiri itu. Tapi janganlah harapan itu menjadikan kita terlalu menganggap bahwa Jokowi adalah seorang sempurna yang tak mungkin mengecewakan. Jokowi dan Prabowo, dan tentu kita semua, adalah tempatnya salah. Kita cari kesalahan Jokowi pastilah akan kita temukan karena dia cuma manusia biasa saja. Saya harap, jika Jokowi terpilih sebagai presiden nanti, negara ini bisa lebih maju seperti kota yang pernah beliau pimpin.

Buat para pendukung Prabowo, harapan saya bila beliau terpilih nanti adalah jika memang beliau menganggap zaman Soeharto adalah zaman yang terbaik, semoga beliau bisa membawa apa-apa yang baik di zaman Soeharto dan menunaikan janjinya menjadikan negara ini sebagai Macan Asia namun tidak dengan mengikutsertakan kesalahan dan kepemimpinan semena-mena yang begitu buruk pada zaman Soeharto tersebut. Saya tidak ingin negara ini dibawa mundur ke masa-masa fasisme ala Orba yang dengan keji menyingkirkan siapa pun yang beda secara pandangan, beda pendapat, atau beda apapun. Tak apa pro status quo dan menjadi perpanjangan dari rezim pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, seperti slogan ‘Lanjutkan!’-nya besan dari Hatta Radjasa itu, asalkan jangan berjalan mundur ke zaman Soeharto yang oleh Prabowo coba digali lagi lewat romantisme masa lalu dengan menyebar pameo yang fenomenal, ‘Piye kabare, enak jamanku toh?’ itu, dan mencoba menawarkan wacana pada masyarakat tentang kepahlawanan Soeharto.

Harus saya akui bahwa saya kecewa pada pemerintahan SBY yang dipercaya menjabat selama dua periode namun tak banyak menciptakan keberhasilan, bila tak mau dikatakan gagal. Maka saya harap, pemerintahan yang akan datang adalah pemerintahan yang bisa lebih baik dari pemerintahan sekarang. Kita tentu tidak ingin mengalami kekecewaan seperti kekecewaan seorang Soe Hok Gie yang pada masa Orde Lama, masa mudanya dihabiskan untuk memperjuangkan demokrasi, namun setelah Orde Lama tumbang, yang kemudian lahir adalah Orde Baru yang lebih menakutkan, otoriter, beringas, dan berwajah monster.

Pada akhirnya, untuk kedua calon dan para pendukungnya, yang harus kita sadari pada setiap kompetisi kecuali mempersiapkan kemenangan adalah, siap menerima kekalahan dan legowo menanggung kegagalan. Sebab, kegagalan pun tidak selalu berarti ketidakberhasilan dalam semua hal, dan keberhasilan meraih jabatan pun tak menutup kemungkinan untuk menjadi gagal saat dipercaya untuk menjabatnya. Terkadang, memang lebih baik gagal terpilih ketimbang terpilih namun gagal, seperti apa yang diucapkan oleh Abraham Lincoln, presiden Amerika Serikat ke 16 yang berkali-kali gagal menjadi anggota senat saat mudanya namun di kemudian hari berhasil menjadi seorang presiden. Katanya, “Saya lebih baik gagal dalam suatu tujuan yang pada akhirnya akan berhasil, daripada berhasil dalam suatu tujuan yang akhirnya akan gagal.”

Dedo Dpassdpe
Rakyat

Fasisme, Fanatisme, dan Awamisme di Mata Awam

fasis

Pada sebuah pertandingan sepakbola di Januari 2005 antara Lazio melawan Roma, seorang penyerang Lazio membuat gempar setelah ia mencetak gol pertama dalam kemenangan 3 – 1 Lazio atas Roma. Adalah Paolo Di Canio, seorang yang sebelum menjadi pemain sepakbola profesional, merupakan seorang fans fanatik garis keras Lazio. Ia menjadi bahan pembicaraan banyak orang setelah aksi selebrasi golnya ke arah tribun Curva Nord ditengarai mirip dengan fascist salute ala pemimpin Partai Nazi dari Jerman, Adolf Hitler.

Di Canio lahir dan tumbuh di lingkungan kelas pekerja di kota Roma, Italia. Ia tumbuh sebagai bagian dari suporter ultras Lazio yang keras, fanatis, dan begitu membenci lawannya. Jauh sebelum ia melakukan salam ala fasis pada selebrasi golnya ke Roma pada tahun 2005 tersebut, ia pernah merayakan satu-satunya gol pada pertandingan di mana ia mencetak gol perdananya pada salah satu dari lima partai derby yang disebut-sebut paling panas itu dengan berlari dan mengejek para suporter Roma. Keruan saja, tingkahnya ini membuat jengkel para tifosi lawan.

Merasa tak cukup dengan itu, jauh masa setelahnya, Di Canio melakukan lagi perayaan gol kontroversial dengan mengangkat tangan dan melakukan salam ala fasis sebagai simbolisasi keunggulan dirinya atau timnya terhadap lawan. Ia pun lalu dikenai sanksi denda ratusan juta rupiah atas aksinya tersebut, meski ia menampik apa yang dilakukannya merupakan bagian dari fasisme. Selain Di Canio, Lazio juga dijatuhi hukuman serupa, yakni denda ratusan juta rupiah oleh Federasi Sepakbola Italia. Otoritas sepakbola Italia menegaskan, seorang pemain sepakbola tak semestinya memakai gerak isyarat apapun yang mengindikasikan sebuah ideologi politik karena berpotensi memancing keributan dan kekerasan dari suporter.

Namun rupanya Di Canio bukanlah satu-satunya pemain yang melakukan selebrasi kontroversial. Nicolas Anelka pun pernah melakukan perayaan gol berbau salut anti-semit, dan ulahnya tersebut mendapat reaksi keras dari komunitas Yahudi di berbagai negara. Klubnya, West Bromwich Albion, bahkan terancam diputus kerjasama kontraknya oleh sponsor. Selain Nicolas Anelka, yang terbaru adalah apa yang dilakukan oleh Josip Simunic, bek veteran Kroasia. Ia melakukan sebuah selebrasi nyeleneh ala diktator pada sebuah pertandingan yang kemudian membuatnya dihukum larangan tampil 10 pertandingan oleh FIFA, dan itu berarti ia melewatkan perhelatan Piala Dunia 2014. Tragisnya, selebrasi itu dilakukan di partai penentu melawan Islandia yang membawa negaranya melaju ke Piala Dunia.

Hukuman yang paling berat atas ulah menampilkan simbol-simbol politik ke dalam olahraga menimpa seorang Giorgios Katidis, pemain AEK Athens yang baru berusia 20 tahun. Atas kebodohannya menunjukkan salam ala fasis di lapangan, ia dijatuhi hukuman larangan bermain seumur hidup di timnasnya oleh federasi sepakbola Yunani. Meski kemudian ia menyatakan menyesal dan mengatakan tak akan melakukannya lagi, apa yang ia tampilkan terlanjur merobek nilai-nilai sportivitas dalam sepakbola dan melukai kemanusiaan pada umumnya. Kita tahu, apa yang dilakukan oleh Hitler, atau Benito Mussolini (fasis dari Italia), atau pemimpin dunia lainnya melalui ideologi fasisme telah membunuh jutaan manusia di seluruh jagat.

Lalu apa itu fasisme dan apa bahayanya? Fasisme adalah sebuah paham politik kanan yang ekstrem, sebuah gerakan radikal ideologi nasionalis otoriter, sebuah paham yang didasarkan pada ikatan darah, kebudayaan, dan keturunan melalui sistem partai tunggal yang totaliter. Fasisme adalah sebuah paham politik yang cenderung sama dengan totalitarianisme, sistem totalitarian sendiri adalah bentuk pemerintahan dari suatu negara yang bukan cuma selalu berupaya menguasai segala aspek ekonomi dan politik masyarakat, tetapi juga selalu berusaha menentukan nilai-nilai moral, kepercayaan, dan paham dari masyarakat. Sebagai akibatnya, tak ada lagi batas pemisah antara hak dan kewajiban oleh negara dan oleh masyarakat.

Fasis percaya bahwa bangsa memerlukan kepemimpinan yang kuat, identitas kolektif tunggal, dan kemampuan untuk melakukan kekerasan dan berperang untuk menjaga bangsa yang kuat. Pemerintah fasis melarang keras dan menekan segala bentuk oposisi dan protes masyarakat terhadap negara, begitu tabu terhadap komunisme, pantang berdemokrasi, anti terhadap kritik, anti-liberal, anti-parlemen, anti-konservatif, anti-borjuis, anti-proletar, dan dalam banyak kasus, juga anti-kapitalis. Fasisme menolak konsep-konsep egalitarianisme, materialisme, dan rasionalisme yang mendukung tindakan, disiplin, hirarki, semangat, dan keinginan.

Lalu apa bahayanya? Fasisme menjadi mengerikan karena pada prakteknya sering menggunakan berbagai cara yang cenderung militeristik, dengan melakukan tindakan represi dan kekerasan untuk mengacaukan situasi demi mendapat kekuasaan politik. Fasis menghalalkan pembunuhan orang-orang yang berbeda secara pandangan atau berbeda dalam hal apapun, penculikan orang-orang yang dianggap mengganggu stabilitas, penghilangan orang-orang yang dituduh subversif, dan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan prinsip dasar hak asasi manusia (HAM).

Saya mungkin termasuk seorang yang awam terhadap politik dan tak tahu apa saja ideologi-ideologi dalam sistem pemerintahan. Saya pun tak tahu persis kapan lahirnya paham fasisme. Menurut saya, paham tersebut ada sejak era Romawi. Fasisme lahir dari ketakutan dan kecurigaan bangsa Romawi akan adanya kekuatan yang tumbuh di luar kehendaknya. Karena merasa diri unggul, fasisme tidak mau ada ras, suku, atau bangsa lain yang melebihinya dan lebih kuat darinya. Oleh sebab kekhawatiran tersebut, Republik Romawi sebagai bangsa yang paling maju pada masa tersebut, melalui pemimpinnya yang adalah seorang diktator, Julius Caesar, melakukan serangan ke berbagai wilayah termasuk ke Britania, Gaul (Perancis), dan mengakibatkan diaspora bangsa Yahudi juga menghilangnya Tanah Israel (Eretz Yisrael) dari peta dunia, sampai kemudian Inggris sebagai pemenang Perang Dunia mengembalikannya lagi melalui Mandat Britania.

Kemudian pada masa tumbuhnya fasisme ala Mussolini dan Hitler (Hitler pada masa remaja adalah seorang pengagum Mussolini) di awal abad 20, bangsa Yahudi yang ketika itu sedang mengalami kemajuan pesat dan mulai menuntut didirikannya sebuah negara, tiba-tiba dianggap sebagai sebuah ancaman oleh diktator-diktator seperti Mussolini dan Hitler yang melalui paham fasismenya, kemudian melakukan perang, genosida, dan pembunuhan besar-besaran terhadap mereka. Peristiwa Holocaust dan Perang Dunia adalah contoh dari kekejian ideologi fasisme.

Di Indonesia sendiri, Orde Baru adalah sebuah pemerintahan yang diindikasikan menerapkan paham fasisme selama berkuasa. Soeharto yang berkuasa melalui momentum jatuhnya wibawa Soekarno di mata rakyat, dengan menggunakan senjata Supersemar-nya dan sentimen anti-komunis yang secara baik ia propagandakan, adalah seorang diktator yang menggunakan ideologi fasisme selama menjabat sebagai pemimpin negara. Ia benar-benar begitu mengekang demokrasi, kebebasan, dan menekan oposisi dengan cara-cara di luar nalar, sampai kemudian ia dijatuhkan oleh rakyat yang tidak tahan dengan kekejamannya.

Kemudian sampai lama sekali sejak setelah lengsernya Soeharto, kita, atau saya sendiri, lalu menjadi sedemikian jarang mendengar atau membaca kata-kata fasisme dalam kehidupan sehari-hari sampai kemudian datanglah gegap-gempita musim Pemilu 2014. Adalah Ahmad Dhani, seorang musisi jenius yang semasa mudanya banyak menciptakan lagu-lagu jawara dan everlasting untuk didengarkan pada zaman kapan pun —yang sayang sekali di usianya yang semakin dewasa menjadi banyak membuat lagu-lagu yang (maaf) berkualitas seadanya dengan lirik yang tak sekuat lagu-lagunya dahulu— membuat gempar bahkan sampai ke luar negeri gara-gara dalam klip lagunya yang ia bikin untuk kepentingan kampanye salah satu Capres-Cawapres, ia memakai semacam jas yang mirip dengan pakaian Heinrich Himmler, seorang komandan Schutzstaffel (SS) Jerman dan salah satu tokoh yang paling berpengaruh di Nazi. Seorang yang mengendalikan SS dan Gestapo. Seorang yang juga menjadi organisator utama Holocaust, dan bertanggung jawab atas pembasmian manusia dengan jumlah korban jutaan jiwa.

Mengingat suasana sedang panas akibat musim Pemilu, hal-hal teledor dan blunder yang sedikit saja bisa dibesar-besarkan. Apalagi jika keteledoran itu menyangkut isu kemanusiaan. Isu kemanusiaan sendiri adalah isu besar dan merupakan hal yang sangat sensitif. Kita tahu, sesuatu yang sensitif sebaiknya jangan pernah dianggap hal remeh. Jika kita tidak tahu pada hal yang mendasar semacam ini saja, maka apa bedanya kita dengan orang-orang yang menciptakan berita hoax tentang kematian salah satu mantan presiden kita, apa bedanya kita dengan orang-orang yang menyebar foto korban sebuah kecelakaan tanpa memikirkan perasaan korban yang ditinggalkannya, apa bedanya kita dengan orang-orang yang mengaku cacat demi mendapat sumbangan uang, apa bedanya kita dengan orang-orang yang menjadikan bencana sebagai bahan candaan, apa bedanya kita dengan seorang yang tidak peka pada prioritas seorang ibu hamil di ruang publik, dan apa bedanya kita dengan seorang yang menyebut korban kecelakaan dan terbakarnya kereta api di Bintaro kemarin dengan sebutan kuliner manusia bakar?

Sayangnya Dhani bergeming ketika banyak pihak menegur, mengkritik, dan bahkan mencelanya. Ia bahkan dengan lantang mengatai para pengkritiknya sebagai seorang yang awam yang tak tahu apa-apa dalam akun Twitternya. Meski ia enggan dibilang sebagai seorang fasis, apa yang ia lakukan dalam penolakannya disebut fasis dengan cara memandang rendah orang lain adalah cerminan sikap Nazi yang menganggap ras lain adalah sampah yang harus dimusnahkan. Ia menolak dituduh sebagai seorang fasis dengan cara yang fasis, yakni dengan menganggap diri unggul dan menganggap orang lain sebagai awam.

Ahmad Dhani memang saya kenal sebagai seniman nyentrik nan arogan. Namun agaknya kali ini ia telah bertindak berlebihan. Saya kecewa ketika saya pertama kali baca tweets di akun sosial medianya yang tulisannya berantakan, entah kesalahan penulisan atau apa, ia menulis Jokowi dengan sebutan Jokuwi. Sebagai seorang berpengaruh yang semestinya memberikan pendidikan politik yang baik, hal-hal semacam itu sangat saya sayangkan. Dhani tak ubahnya seperti seorang fanatis dalam sepakbola yang menyebut Liverpool dengan sebutan Liverfool atau Loserpool saking bencinya, menyebut Chelsea dengan Chelshit, Manchester United dibilang Mencreter Unipret, Arsenal dengan Arsendal, Barcelona dengan Bancilona, Real Madrid dengan Real Mahodrid, dan lain sebagainya. Saya terus terang sangat membenci hal-hal kefanatikan semacam ini. Sebab fanatisme seperti ini menurut saya, mempunyai hubungan linier dengan fasisme dan tidak dapat dipisahkan dengan aroganisme, dan ini harus kita tentang.

Mungkin dari kita pernah terbesit sebuah pemikiran bahwa menentang fasisme juga terkadang terjebak menjadi fasisme pula, atau membenci fanatisme adalah fanatisme dan kebencian dalam bentuk lain. Ini pemikiran yang tidak benar. Memerangi peperangan mungkin bisa dengan peperangan, namun tidak semua peperangan itu buruk secara moral. Kita tidak boleh menjadi awam seperti yang dikatakan Dhani dengan menyetujui bahwa menentang fasisme adalah fasisme dalam bentuk lain. Kita tidak boleh menjadi awam seperti Dhani yang malah balik mengatai awam kepada para penegur yang mengkritiknya tentang simbolisasi yang ia bawa dalam klipnya. Alih-alih berterima kasih karena diingatkan, Dhani malah menunjukkan sikap yang sangat disayangkan.

Dhani mungkin lupa atau tak tahu bahwa orang sakit jiwa yang pernah saya jumpai di RSJ Grogol (saya kebetulan tinggal di sekitar sana), menganggap para pengunjung dan dokternya sendiri adalah orang gila lalu menganggap dirinya sebagai pihak yang waras. Dan seperti halnya orang gila yang tak pernah sadar dirinya gila, orang bodoh pun tak mengerti kalau dirinya bodoh, orang pintar yang sejati pun tak akan menggembar-gemborkan bahwa dirinya pintar, seorang wali pun tak akan mengaku dirinya adalah wali, dan awam pun tak akan sadar bahwa dirinya adalah awam.

Ahmad Dhani yang di luar arogansinya sebagai manusia adalah seorang yang saya kagumi dari musikalitasnya, telah menampar kita dan menyadarkan kita semua bahwa ada hal-hal yang kurang pantas jika dibawa ke ranah publik karena menyangkut isu sosial atau kemanusiaan atau apapun. Namun sebagai manusia yang seringkali salah, keterlanjuran berbuat yang tidak sesuai bisa kita sadari dan sesali dengan sendirinya untuk kemudian mengajukan permintaan maaf. Jika kemampuan menyadari kesalahan sendiri (introspeksi) tak kita punyai, adalah teguran dan kritik dari orang lain yang membuat manusia menjadi manusia lebih baik. Dan jika ditegur saja tidak bisa, maka kita perlu berkaca siapa di antara kita yang awam? Atau jika dikritik saja malah menentang, maka barangkali kita telah menjadi fasis tanpa tahu apa itu fasis sebagaimana orang awam yang tak sadar bahwa dirinya adalah awam.

Dedo Dpassdpe
Awam Politik

Sebuah Catatan

catatan

Soe Hok Gie bilang, “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah yang berumur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Rasa-rasanya, bagi seorang filsuf Yunani itu dan seorang pemikir seperti Gie, hidup memang tak terlalu menarik. Hambar, penuh kepalsuan, dan cenderung membosankan. Gie mengatakan bahwa dia seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. “Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.” Begitu ia memimpikan sebuah hidup yang ideal.

Saya dan Anda tentu pernah dilanda kebosanan hidup maha dahsyat yang membuat kita ingin lekas-lekas menyudahi hidup di dunia ini. Tak apa, hal seperti itu wajar. Jangankan kita yang hidup biasa-biasa saja, bahkan seorang Kurt Cobain yang hidupnya begitu mentereng, bergelimang cinta, begitu dielu-elukan penggemar, dan dipuja-puji bak dewa pun mengalami kesunyian tak terpermanai yang bikin hidupnya tak ubahnya sebuah perjalanan menunda kekalahan semata, begitu kira-kira kata Chairil Anwar. Biar bagaimana pun Anda menunda-nunda mati, maut selalu mengintai. Kapan pun, di mana pun, dengan cara apa pun.

Maka ketimbang mati di usia tua, di mana semakin menua hidup akan lebih menyedihkan karena semakin sering kita menjadi saksi kematian-kematian orang tercinta, Kurt melalui surat kematiannya yang mengutip lirik lagu Neil Young berjudul My My, Hey Hey (Out of the Blue) mengatakan, ‘Lebih baik terbakar habis daripada memudar,’ ia pun memilih mati muda, sebagaimana Chairil yang oleh kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw, disebut-sebut menyadari dirinya akan mati muda, yang memilih mati muda dengan berlindung di balik frasenya yang sangat terkenal, ‘Sekali berarti sudah itu mati.’

Gie, Kurt, atau Chairil, punya kesamaan yang tegas. Sama-sama mati di usia muda. Sekitar 27 tahun. Selain mereka, kita tentu mengenal orang-orang hebat yang mati di usia tersebut. Ada Jimi Hendrix, gitaris yang disebut-sebut sebagai gitaris terbaik dalam sejarah musik dunia yang kematiannya menyisakan misteri, entah dibunuh, entah overdosis oleh sebab mengonsumsi obat-obatan terlarang untuk menghilangkan rasa depresinya. Lalu ada Brian Jones, salah satu pendiri grup band legendaris Rolling Stones yang dikenal dengan permainan gitar dan harmonikanya yang brilian, ditemukan tewas di kolam renang di kediamannya sebulan setelah ia dikeluarkan dari Rolling Stones. Penyebab kematiannya diyakini akibat penyalahgunaan obat terlarang secara berlebihan. Hati dan liver Jones membengkak akibat obat-obatan dan alkohol. Lalu ada Janis Joplin, si Ratu Rock and Roll yang mengakhiri hidupnya dengan mengonsumsi heroin berlebihan. Kemudian Jim Morrison, pendiri dan vokalis utama The Doors yang dikenal dengan improvisasinya dan puisi-puisinya yang kerap dibacakan di atas panggung, meninggal misterius dan saking misteriusnya sampai-sampai tim yang dipanggil untuk menyelidiki kematian Jim, melalui sertifikat kematian yang dikeluarkannya cuma menyimpulkan bahwa Jim mati lantaran jantungnya berhenti berdenyut. Sebuah kesimpulan yang tidak membantu apa pun. Toh semua orang mati pastilah jantungnya berhenti bekerja.

Chairil dan Gie adalah dua orang berpengaruh di Indonesia yang sama-sama meninggal menjelang usia ke 27. Tak ubahnya dengan Chairil yang melalui puisi-puisi kematiannya seperti puisi Jang Terampas Dan Jang Putus yang diidentifikasi sebagai sebuah keinginan mati muda, Gie yang meninggal dunia akibat menghirup gas beracun di gunung Semeru, sehari sebelum ulang tahunnya ke 27, pun sebenarnya menyadari bahwa dirinya akan mati muda. Tertuang jelas dalam catatannya ia mengatakan, “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya,” atau kebingungannya dalam melihat kehidupan yang ia tulis, “Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” atau saat ia mengakhiri salah satu puisinya dengan kalimat, “Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu.” Keduanya, Chairil dan Gie, memandang hidup sebagai sebuah batu loncatan yang tak perlu lama-lama dipijak, sebab sejatinya hidup di dunia ini fana belaka.

Kurt yang datang dari sebuah keluarga yang hampir sama seperti Chairil, yaitu dari keluarga yang orang tuanya bercerai, adalah yang paling naas. Ironis, ia mati di tengah-tengah karirnya yang sedang memuncak. Tak jua karir, tak pula anak dan istri, tak jua teman-teman, semuanya tak dapat menghindarkannya dari hasratnya yang memuncak untuk mengakhiri hidup. Kurt, yang oleh saudara perempuannya terungkap bahwa ketika masih anak-anak, pernah menyatakan ingin bergabung ke dalam Club 27, tewas tidak cuma oleh obat-obatan terlarang, tapi juga oleh sebuah senapan berburu berbobot berat yang melubangi langit-langit mulutnya. Ia mati kesepian di dalam ramai yang tak pernah ia bisa nikmati. Kematiannya pun ditangisi oleh berjuta-juta manusia yang menganggap Kurt sebagai pahlawan remaja pada saat itu, yang memujanya sebagai sebuah simbol pemberontakan, lambang anti-kemapanan.

Kecenderungan akan kematian Kurt juga terungkap pada sebuah percakapan dengan seorang temannya John Fields, di mana Kurt mengatakan bahwa ia ingin menjadi musisi terkenal dan kemudian mati bunuh diri di tengah kesohorannya. Dan benar, sebelum benar-benar tiba hari kematiannya, Kurt mengalami overdosis parah, dan ini merupakan usaha bunuh diri Kurt yang gagal. Dalam secarik kertas di genggamannya, Kurt menulis, “Dr. Baker bilang, aku harus memilih antara kehidupan atau kematian. Seperti Hamlet, aku memilih kematian.” Kabar kematian Kurt pun menyebar di kalangan media dan penggemar di seluruh dunia. CNN bahkan sempat memberitakan bahwa Kurt Cobain sudah tewas. Meski demikian, Kurt masih menuruti saran orang- orang terdekatnya untuk mengikuti program rehabilitasi.

Hamlet sendiri adalah sandiwara tragedi karya William Shakespeare. Seperti karya-karya tragedi lainnya milik Shakespeare macam Romeo dan Juliet, atau Troilus dan Cressida, cerita menyuguhkan kematian tragis sang tokoh utama.

Sebulan setelah peristiwa itu, hasrat untuk mengakhiri hidup tak terbendung lagi. Kurt ditemukan tewas oleh seorang tukang listrik yang menemukan tubuhnya di rumahnya di Lake Washington ketika si tukang listrik itu datang untuk melakukan pemasangan security system. Tukang listrik itu mengira Kurt sedang tidur sampai ia melihat sebuah senjata api berjenis Remington yang mengarah ke dagunya. Sebuah surat kematian berada bersamanya. Di sana, Kurt menulis;

“Karena ditulis oleh seorang tolol kelas berat yang jelas-jelas lebih pantas menjadi seorang pengeluh yang lemah dan kekanak-kanakan, surat ini seharusnya mudah dipahami. Semua peringatan dari pelajaran-pelajaran punk-rock selama bertahun-tahun. Setelah perkenalan pertamaku dengan, mungkin bisa dibilang, nilai-nilai yang terikat dengan kebebasan dan keberadaan komunitas kita ternyata terbukti sangat tepat. Sudah terlalu lama aku tidak lagi merasakan kesenangan dalam mendengarkan dan juga menciptakan lagu sama halnya seperti ketika aku membaca dan menulis. Tak bisa dilukiskan lagi betapa merasa bersalahnya aku atas hal-hal tersebut. Contohnya, sewaktu kita bersiap berada di belakang panggung dan lampu-lampu mulai dipadamkan dan penonton mulai berteriak histeris, hal itu tidak mempengaruhiku, layaknya Freddie Mercury, yang tampaknya menyukai, menikmati cinta dan pemujaan penonton. Sesuatu yang membuatku benar-benar kagum dan iri. Masalahnya, aku tak bisa membohongi kalian, semuanya saja. Itu tak adil bagiku atau pun kalian. Kejahatan terbesar yang pernah kulakukan adalah menipu kalian dengan memalsukan kenyataan dan berpura-pura bahwa aku 100 persen menikmati saat-saat di atas panggung. Kadang aku merasa bahwa aku harus dipaksa untuk naik ke panggung. Dan aku sudah mencoba sekuat tenaga untuk menghargai paksaan itu, sungguh, Tuhan percayalah kalau aku sungguh-sungguh melakukan itu, tapi ternyata itu tidak cukup. Aku menerima kenyataan bahwa aku dan kami telah mempengaruhi dan menghibur banyak orang. Tapi, aku hanya seorang narsis yang hanya menghargai sesuatu jika sesuatu itu sudah tidak ada lagi. Aku terlalu peka. Aku butuh sedikit rasa untuk bisa merasakan kembali kesenangan yang aku miliki saat kecil. Dalam tiga tur terakhir kami, aku mempunyai penghargaan yang lebih baik terhadap orang-orang. Saking cintanya, itu membuatku merasa sangat sedih. Aku adalah Jesus man, seorang Pisces yang lemah, peka, tidak tahu terima kasih, dan menyedihkan. Kenapa kamu tak menikmatinya saja? Tidak tahu. Aku punya istri yang bagaikan dewi yang berkeringat ambisi dan empati dan seorang putri yang mengingatkanku akan diriku sendiri di masa lalu. Penuh cinta dan selalu gembira, mencium siapa saja yang dia ditemui karena menurutnya semua orang baik dan tidak akan menyakitinya. Itu membuatku ketakutan sampai-sampai aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa membayangkan Frances tumbuh menjadi rocker busuk yang suka menghancurkan diri sendiri dan menyedihkan seperti aku sekarang. Aku bisa menerimanya dengan baik, sangat baik, dan aku bersyukur, tapi aku telah mulai membenci semua orang sejak aku berumur tujuh tahun. Hanya karena mereka terlihat begitu mudah bergaul, dan berempati. Empati! Aku pikir itu disebabkan karena cinta dan perasaanku yang terlalu besar pada orang-orang. Dari dasar perut mualku yang serasa terbakar, aku ucapkan terima kasih atas surat dan perhatian kalian selama ini. Aku hanyalah seorang anak yang angin-anginan dan plin-plan! Sudah tidak ada semangat yang tersisa dalam diriku. Jadi ingatlah, lebih baik terbakar habis, daripada memudar.”

Kali ini Kurt Cobain benar-benar berhasil mewujudkan keinginannya. Tak ada yang bisa menyelamatkan nyawanya kali ini (dalam kasus orang bunuh diri, menyelamatkan nyawa orang tersebut saya kira tidak bisa disebut menyelamatkan, barangkali itu tindakan menjerumuskan dan memaksanya untuk tetap hidup). Ia tewas dan ditemukan beberapa hari setelah kematiannya. Dunia berkabung. Di Indonesia, kata teman saya, pada waktu itu sebuah koran menulis, ‘Kurt Cobain Bunuh Diri’, teman saya menerjemahkannya sebagai Kurt mencoba bunuh diri (lagi), maka ia tak percaya sampai benar-benar membaca isi berita itu. Ia pun berduka.

Saya dan Anda yang tidak terlalu tertarik hidup sampai menua, kalau tak mau dikatakan bosan dengan hidup, bolehlah mengambil sedikit pelajaran dari kisah hidup dan kematian dari Chairil, Gie, Kurt, dan lain-lain (saya tidak tahu kenapa kematian justru menginspirasi saya menulis ini). Hidup panjang memang terlihat membosankan, tapi ketahuilah, satu-satunya melawan kebosanan adalah dengan menjalaninya. Begitu pepatah Tiongkok mengatakan.

Anda yang sudah melewati usia 27, yang saya sebut usia keemasan, di mana kontemplasi, frustasi, depresi, perenungan, dan karut-marut pikiran berlomba-lomba membunuh si empunya usia, adalah orang yang berhasil melewati fase itu. Ada dua orang yang berhasil melewati usia keemasan itu. Yang pertama adalah yang menjalani hidup tertatih-tatih sampai berhasil mencapai dan melewati tahap itu. Yang kedua adalah yang tak pernah memikirkan hal ini. Keduanya sama saja berhasil mencapainya. Dan Anda yang belum melewatinya, teruslah berjalan, tidak perlu terlalu memikirkan tulisan saya ini. Tidak usah mencari-cari kesempurnaan yang akhirnya membawa kita pada keadaan sebaliknya, kecacatan. Tidak perlu mengikuti Kurt Cobain yang bilang lebih baik terbakar habis daripada memudar. Jalani hidup saja dengan menerima dan berserah. Jika Anda bisa tumbuh menua seraya membawa manfaat seperti Muhammad SAW, seperti Siddharta Gautama, seperti Newton, seperti Einstein, seperti Gus Dur, seperti Pram, seperti Mandela, seperti Gandhi, dan lain sebagainya, maka hidup seribu tahun lagi seperti apa yang Chairil Anwar bilang, siapa takut?

Selamat menjalani hidup. Happy Dpassdpe Day and cheers!

Dedo Dpassdpe
Pernah Berusia 27

Kilas Balik

kaleidoskop

Tahun lama lekas berakhir, tahun baru segera datang. Semua orang sibuk. Yang sudah berkeluarga sibuk membuat agenda liburan akhir tahun keluarganya, yang masih jomblo sibuk mencari pasangan untuk menikmati Malam Tahun Baru, yang tinggal di kota besar sibuk hunting tempat melipir sejenak dari kesemrawutan kota, media sibuk memberitakan tentang kilas balik kejadian sepanjang tahun, televisi sibuk menyiapkan hiburan musik atau dangdutan, para penyanyi sibuk menghafal lirik, pengrajin terompet sibuk memproduksi terompet, karyawan pabrik mercon sibuk membuat kembang api, karyawan kantor sibuk tutup buku dan membuat laporan akhir tahun, peramal sibuk membual, penyelenggara award sibuk menyortir nominasi dan nama-nama calon pemenang, polisi dan TNI sibuk diomeli istrinya karena Malam Tahun Barunya mereka kejatahan jadwal piket, si pesimis sibuk mengeluh tahun lama, si optimis sibuk merancang resolusi tahun baru. Semua sibuk.

Saya pun sibuk. Tapi ketimbang sibuk membuat resolusi yang saban tahun jarang saya capai karena saking tak realistisnya resolusi itu, saya lebih sibuk mereview apa saja yang sudah saya lewati dan saya alami selama setahun belakangan saya hidup. Bisa dikatakan, saya sibuk menengok ke belakang. Bukan melihat ke belakang seperti seorang yang gemar mengingat masa lalu, tapi lebih ke introspeksi, menilik apa saja yang telah menimpa diri saya. Setahun sudah mata saya dipakai untuk melihat ke depan, alangkah baiknya jika akhir tahun mata ini digunakan untuk melihat sejenak ke belakang.

Menengok ke belakang dalam pengertian introspeksi tentu bukanlah perkara yang gampang. Banyak hal terjadi, sementara saya tak tahu persis mana-mana yang harus diubah, mana yang harus dipertahankan, dan mana yang mesti ditinggalkan. Dan di antara banyak hal yang terjadi itu, ada yang harus diperlihatkan ke orang-orang, ada juga yang cukup diendapkan saja untuk saya nilai sendiri di ujung waktu, di penghujung tahun, dan lalu dijadikan sebagai pelajaran di tahun-tahun yang akan datang.

Begitu banyak kejadian yang menimpa diri saya, pasti cuma sedikit saja yang bisa saya pungut untuk dijadikan sebagai pelajaran. Pepatah bilang, guru terbaik adalah pengalaman. Maksud pepatah itu bukanlah cuma pengalaman yang saya alami sendiri, tapi juga pengalaman orang lain. Saya dan Anda tak perlu mengalami sebuah pengalaman pahit untuk tahu peristiwa tersebut memang menyakitkan. Kita tak perlu menjadi Abdul Qodir Jaelani untuk tahu bahwa jika belum cukup umur, sebaiknya jangan membawa mobil sendiri. Kita tak perlu menjadi Farhat Abbas agar paham bahwa orang yang terlalu mencampuri urusan orang lain itu menjengkelkan. Kita tak usah menjadi Subur atau Vicky Prasetyo hanya agar dikenal penonton gosip televisi. Kita tak usah njengking-njengking seperti Miley Cyrus untuk sekadar mencuri perhatian orang, berfoto-foto selfie seperti Barack Obama, marah-marah seperti Arya Wiguna, pamer kekayaan seperti Nassar dan istrinya, menyiramkan air ke muka orang seperti yang dilakukan Munarman, dan lain sebagainya. Kita tak perlu semua itu. Yang kita perlukan adalah belajar dari pengalaman orang lain sebab sesungguhnya hidup ini begitu singkat untuk kita harus mengalami semua hal itu sendiri.

Semasa kecil, orang tua saya atau orang tua kita pada umumnya tentu sering bercerita perihal pengalaman hidupnya. Yang mereka lakukan adalah sedang memberi tahu bahwa ada sebagian pengalaman hidupnya yang anaknya perlu belajar sebagaimana para orang tua mereka mengisahkannya pada mereka, karena mereka tahu, umur anaknya tidak cukup untuk mengalami sendiri semua hal. Beranjak besar, saya sering dicurhati oleh teman tentang apa saja, memerhatikan tingkah-laku orang-orang di jalan, melihat keributan di pasar, melihat keramaian di pasar malam, melihat keriuhan di mal, mendengar cerita demi cerita, membaca berita, dibisiki kisah-kisah, diemail seseorang yang berkisah tentang apa yang dialami dalam hidupnya, dan lain sebagainya. Saya belajar banyak dari semua itu. Saya belajar agar dalam hidup yang sangat singkat ini, jika saya tak cukup umur untuk berbuat banyak kebaikan, paling tidak saya tak menunaikan banyak kesalahan.

Dedo Dpassdpe
Manusia

BAHASA

bahasa

Saya tak dapat meragukan bahwa bahasa berasal dari imitasi dan modifikasi, dibantu oleh isyarat dan gerakan, terhadap berbagai suara alam, suara binatang lainnya, dan teriakan naluriah manusia sendiri. – Charles Darwin

Di tulisan saya yang lalu, saya menulis sebuah tulisan tentang nekrofilia. Seorang pembaca protes karena ‘nekrofilia’ yang saya maksudkan bukan pada artian seperti terdapat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang bermakna kelainan tertarik secara seksual terhadap mayat. Karena saya ingin membahas tentang kehidupan dari sudut pandang orang yang lebih tertarik pada kematian, maka saya menggunakan kata ‘nekrofilia’ tersebut sebagai istilahnya. Lagipula saya tidak menemukan kata yang tepat selain kata itu. Nekrologi, nekrolog, nekromansi, dan lain sebagainya pun tidak tepat sama sekali jika saya gunakan. Saya pun menggeneralisasikan kata ‘nekrofilia’ menjadi lebih luas maknanya agar tak cuma berhenti di pengertian seperti tertera di KBBI. Saya tentu terkesan sembarangan menggunakan istilah tersebut, tapi jauh sebelumnya, bertahun yang lalu, saya pernah membaca sebuah ulasan di koran besar nasional yang membahas tentang nekrofilia. ‘Nekrofilia’ yang dimaksud kurang lebih sama dengan pengertian yang saya ciptakan, yaitu yang sudah mengalami generalisasi. Di koran itu, penulis menyandingkannya dengan kata ‘biofilia’ sebagai lawan katanya. ‘Biofilia’ sendiri tidak ada di kamus setahu saya. Tapi saya dapat mengerti maksudnya. Maka mari kita sepakati bahwa sebuah kata atau perkataan tentu penting jika kita menggunakannya dengan baku, benar, dan tepat. Tapi yang terpenting adalah maksudnya dapat kita tangkap.

Pada sekitaran tahun 2007, saat saya masih berkantor di sebuah laboratorium optik, saya pernah punya teman kerja limpahan dari laboratorium Korea Selatan. Namanya sebut saja Bambang. Perkenalan kami dengannya tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya butuh beberapa hari saja kami sudah tahu dari mana dia berasal, apa pekerjaannya di Korea Selatan, bagaimana bisa dia sampai ke negara ginseng itu, berapa gajinya, dengan bahasa apa dia bicara dengan rekan-rekannya di kantornya dulu, dan lain sebagainya.

Bambang ini berasal dari daerah Jawa. Semarang tepatnya. Usianya delapan tahun lebih tua dari umur saya. Dia bekerja di Korea Selatan selama tiga tahun lebih dan pulang-pulang bawa uang segepok, dia sendiri yang bercerita seperti itu, saya tak lihat uangnya tapi saya percaya saja. Sebelumnya, dia menganggur saat masih menunggu panggilan kerja dari pihak terkait. Masa menganggurnya itu, katanya, adalah masa menghabiskan uang dari hasil bekerja sebelumnya di Taiwan selama setahun. Ya, sebelum bekerja di Korea Selatan, dia pernah bekerja di Taiwan. Dia berkisah, pekerjaannya di Taiwan itu lebih sulit ketimbang pekerjaannya di Korea Selatan. Pasalnya dia waktu itu baru lulus SMA, belum berpengalaman, dan hanya bermodalkan nekat seperti orang-orang di kampung halamannya yang merantau entah ke mana untuk mengubah nasib dirinya dan keluarganya. Bapaknya adalah seorang petani biasa. Tak kaya-kaya amat bahkan untuk ukuran di kampung. Tekad untuk mengubah nasib itulah yang membawanya sampai ke negeri seberang dengan modal ongkos hasil dari jual sawah bapaknya yang tak kaya-kaya amat itu. Dia berjanji pada bapaknya, kelak nanti, nasib keluarga akan berubah.

Singkat cerita, berangkatlah dia ke Taiwan dengan nekatnya, tanpa teman di sana, tanpa tahu bahasanya, dan tanpa tahu kultur di negeri itu. Di sana dia bekerja di sebuah bengkel mobil milik orang lokal di daerah situ. Dia tak bisa bahasa Taiwan, sementara majikannya tak bisa bahasa Indonesia. Keduanya pun tak bisa bahasa Inggris. Maka yang terjadi selama masa-masa awal dia bekerja di sana adalah dialog dengan bahasa monyet, bahasa yang ketika mereka berdua gunakan, tak ada satu pun orang di situ yang mengerti apa maksudnya. Kata Bambang, jika majikannya menyuruhnya mengambilkan tang, obeng, atau alat apa, majikannya akan bicara dengan isyarat tubuh dan intonasi setengah teriak (mungkin emosi atau kesal) dengan bahasa yang bukan bahasa Taiwan, dan tidak pula bahasa Indonesia, dia pun akan membalasnya dengan bahasa yang sama. “Hah huh hah huh!” kata majikannya sambil tangan atau mimik mukanya menerangkan sesuatu, seperti ditirukan Bambang. Mereka berdua tidak mengerti bahasa itu, tapi keduanya sekuat tenaga untuk memahami maksudnya. Tak jarang dia salah mengerti maksud majikannya. Ketika dia salah mengambil alat, majikannya akan menolak dengan bahasa yang mereka ciptakan itu, dia pun akhirnya memahami bahwa dia salah mengambil lalu akan mengerti mana alat yang harus diambil. Begitu seterusnya.

Bambang bilang bahwa majikannya adalah orang yang disiplin dan teratur, jika meminta kunci pas maka harus kunci pas, tidak boleh kunci Inggris meskipun kunci Inggris bisa digunakan. Pernah suatu kali dia melihat majikannya kesusahan memasang paku di tembok hanya karena tidak menemukan palu. Dia pun mendatanginya dan membantu memasang paku itu di tembok dengan memakukannya memakai tang. Saat itu, dia cuma menemukan tang, palu entah sedang dipakai siapa. Majikannya heran dia melakukan itu, dia pun heran dengan kedisiplinan dan kebakuan majikannya. Mereka saling heran. Karena Bambang hanyalah karyawan, maka dialah yang kena marah oleh sebab telah membuat majikannya heran. Tapi karena tidak tahu apa yang diucapkan majikannya itu saat memarahinya, Bambang pun hanya menunduk. Bertahun-tahun kemudian, dia menceritakan kisah itu pada saya sambil terbahak-bahak. Tak berani tertawa di negeri orang, dia simpan rapi-rapi kisah itu untuk ditertawainya di negeri sendiri.

Beruntung majikannya baik, meski ketika menyuruh sesuatu nadanya setengah teriak seperti orang lagi senewen, majikannya tetap mempekerjakannya. Kadang-kadang di tengah percakapan mereka, sedikit demi sedikit majikannya menyisipkan kosakata bahasa Taiwan dengan telatennya seperti seorang ibu yang mengajak bayinya bicara. Hasilnya, tiga bulan pertama, sudah ada orang lain yang mengerti ketika melihat mereka berdua berbicara. Enam bulan, mereka pun meninggalkan bahasa monyet yang mereka ciptakan. Sembilan bulan, mereka berdua sudah lupa bahwa mereka pernah ribut gara-gara salah mengambil alat. Mereka seperti membuktikan bahwa Teori Evolusi Darwin juga berlaku di bahasa. Setahun bekerja di situ, dia pulang kampung dan lalu berkisah pada tetangga-tetangganya bahwa tidak penting bisa bicara bahasa negeri asing untuk bisa bekerja di negeri itu, yang penting maksudnya dimengerti. Mendengar ceritanya, orang-orang sekampung pun seketika langsung tergiur untuk mencari uang ke negeri asing tanpa pernah berpikir bahwa tak semua majikan di sana sebaik dan setelaten majikan teman saya itu. Lalu yang terjadi berikutnya, saya semakin sering mendengar berita TKI atau TKW tewas di negeri orang lantaran cekcok dengan majikannya.

Bambang tentu tak salah. Dia beruntung. Dan keberuntungan tidak bisa disalahkan. Kenekatannya telah membawa dia pergi ke negeri seberang, belajar bahasa serta kulturnya, menikmati kuliner asal sana, dan pulang-pulang bawa uang. Kesederhanaan, kemauannya belajar, kenekatannya, dan kemampuannya memahami maksud itulah yang membedakannya dengan Vicky Prasetyo. Seorang yang baru-baru ini begitu populer di koran, televisi, dan sosial media. Saya tak tahu persis siapa dia, tapi keramaian di Twitter dan juga karena beberapa teman mengupload video cara bicaranya, membuat saya tergelitik untuk sedikit mencari tahu siapa dia. Yang saya tahu, Vicky adalah pengguna bahasa yang amburadul. Tata bicaranya berantakan seperti seorang politikus karbitan yang gemar memamerkan intelektualitas di depan rakyat yang berpendidikan rendah. Gaya bicaranya mengingatkan saya pada bahasa monyet yang diciptakan Bambang dan majikannya yang ketika dibicarakan, tak seorang pun mengerti. Tapi setidaknya, Bambang dan majikannya mengerti maksudnya. Vicky Prasetyo lebih parah mengingat dia datang tidak dari kalangan bawah dan semestinya cara bicaranya lebih tertata dan mudah dipahami. Saya yakin, ketika Vicky bicara, ia sendiri pun tak mengerti apa maksudnya. Entahlah.

Tapi omong-omong soal mengerti sebuah maksud, selain kata ‘nekrofilia’ tadi yang oleh saya digeneralisasikan maknanya, kita banyak sekali menemui kata-kata yang mengalami pergeseran makna. Di Twitter, kita sering menjumpai kata ‘nyinyir’ yang makna sebenarnya adalah cerewet, cerewet seperti seorang tua yang suka bicara berkali-kali. Tapi di Twitter kata tersebut mengalami peyorasi dan berubah maknanya menjadi menyindir. Ketika ada seorang bilang, “Tweet kamu nyinyir,” maka maksudnya adalah perkataannya di Twitter menyindir atau menyinggung. Kita mengerti maksudnya walaupun secara makna baku, penggunannya itu keliru. Kata ‘ceramah’ yang dulu berarti cerewet, sekarang mengalami perubahan makna menjadi pidato, belakangan makna awal kata itu kembali lagi. Saat seseorang mengatakan, “Kamu nggak usah ceramah deh,” maka maksudnya adalah meminta lawan bicara agar tidak perlu cerewet. Kata ‘ibu’ dan ‘bapak’ yang pada awalnya berarti emak dan ayah sekarang mengalami perluasan makna menjadi sebutan atau panggilan pada orang yang telah dewasa. Dan banyak lagi contoh lainnya.

Kita tentu tak ingin terjebak menjadi manusia yang kaku pada sebuah aturan baku. Kata orang, aturan dibuat untuk dilanggar. Saya dan Anda tidak perlu melanggar aturan-aturan yang sudah ada. Hanya saja, melonggarkan sedikit cara pandang kita terhadap sesuatu menurut saya lebih baik daripada terlalu ketat. Kawan, saya ingin mengatakan bahwa longgar itu berbeda dengan langgar. Kita tak perlu menjadi Vicky Prasetyo yang membuat berantakan suatu tatanan yang sudah teratur. Tak perlu pula menjadi penonton yang kebingungan karena tatanan yang sudah ada dibuat berantakan hingga kita tak mengerti maksudnya. Juga tak perlu menjadi Bambang dan majikannya yang membuat hal baru untuk mencapai maksud. Bahasa hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Yang terpenting adalah maksud tersampaikan. Ketika sebuah tang bisa dipakai untuk memaku, kita tak perlu susah payah mencari palu yang entah di mana ditaruhnya. Tang dan palu hanyalah alat. Toh paku bisa tertancap. Toh kita tak merusak tembok dan juga tidak merusak tang itu seperti perusakan yang dilakukan Vicky Prasetyo pada bahasa.

Jika mengandaikan bahasa adalah sebuah proses dan maksud sebagai hasil, saya ingin bilang bahwa proses itu penting, tapi yang paling penting adalah hasil. Jalan mana pun selagi bisa mencapai ke Roma, maka tidak penting lagi jalan mana dan apa nama jalan itu. Proses apapun jika hasilnya tercapai, maka tidak penting lagi proses itu. Berproseslah, berbahasalah sesukanya selagi maksudnya tidak kabur dan bisa dimengerti oleh penyimak maka tak perlu takut bahasa itu menjelma menjadi kata-kata tak bermakna. Tentu dengan catatan proses itu terarah, tidak berantakan, tidak membingungkan, dan tidak pula proses yang dilakukan dengan cara-cara yang salah.

Dedo Dpassdpe
Pengguna Bahasa

KEHIDUPAN

life

Dulu, saya pernah mendapatkan pelajaran biologi bahwa makhluk hidup di dunia ini ada ratusan juta jenis, dan di antara ratusan jenis ini dikerucutkan lagi menjadi tiga jenis. Yaitu manusia, binatang, dan tumbuhan. Mengingat saya tumbuh di lingkungan keluarga besar pesantren yang percaya benar bahwa ada makhluk lain selain kita yang hidup di dunia, maka saya memprotes klasifikasi tersebut atas tidak dimasukannya jin, setan, dan sejenisnya ke dalam golongan makhluk hidup. Tapi guru saya bilang bahwa jin dan kawan-kawannya tidak dimasukkan ke dalam jenis makhluk hidup karena ini ilmu biologi. Beliau bilang bahwa ilmu biologi dan ilmu logi-logi lainnya itu berdasarkan sesuatu yang bisa dijelaskan secara logika. Baiklah, sampai di titik ini saya memahami penjelasan ini dan menerima alasan para dokter yang selalu berusaha menjelaskan penyakit yang diderita pasiennya dengan penjelasan yang logis walaupun penyakitnya bisa jadi karena guna-guna, santet, tenung, dan sebagainya yang semakin dijelaskan dengan logika kedokteran semakin tak bisa masuk di logika saya.

Jin, iblis, dan kawan-kawannya mungkin hanya bisa dibicarakan di ranah isme, bukan logi, sebab logi itu haruslah logis seperti kata guru saya. Tapi saya tetap memprotes guru saya atas tidak dimasukannya jam dinding, robot, televisi, mobil, dan lain-lain ke dalam jenis makhluk hidup padahal apa-apa yang disebutkan saya tadi itu hidup. Guru saya bilang bahwa jam dinding, robot, dan sebagainya tidak dapat dikategorikan sebagai makhluk hidup karena mereka bukan makhluk. Lalu apa pengertian makhluk itu sendiri? Tanya saya. Makhluk itu semua yang diciptakan oleh Tuhan, kata guru saya. Nah, kenapa biologi percaya adanya Tuhan kalau memang biologi itu harus bisa dijelaskan secara logis? Bukankah Tuhan itu gaib dan tidak bisa dijelaskan dengan logika? Kalau memang makhluk hidup itu haruslah merupakan makhluk dan eksistensinya harus bisa dijelaskan secara logis kenapa gunung dan batu tidak termasuk padahal gunung dan batu itu termasuk makhluk dan mereka itu hidup dan bisa tumbuh? Tanya saya. Guru saya bilang, gunung dan batu itu banyak yang mati, jadi bukan termasuk makhluk hidup. Tapi manusia juga banyak yang mati, tanya saya. Beliau diam.

Seperti kata Soe Hok Gie bahwa guru bukanlah dewa yang selalu benar dan murid bukanlah kerbau, saya bisa saja mendebat guru saya tentang banyak hal, tapi saya hidup untuk memahami bahwa semua hal tak harus dipahami dan hanya harus diterima saja. Ada banyak hal yang bisa kita terima tanpa harus kita mengerti. Saya pun menerima penggolongan makhluk hidup itu seperti saya menerima kenyataan bahwa di zaman Orba, Candi Borobudur masuk ke dalam jajaran 7 Keajaiban Dunia padahal sebenarnya tidak pernah masuk. Saya menerimanya sebagai sebuah kenyataan bahwa aksioma-aksioma dan hipotesa di wilayah ilmu memang kerap kali tidak bisa diterima oleh akal dan hanya harus diterima saja sebagai sebuah hasil dari akal, atau mungkin sebuah hasil akal-akalan. Orang-orang yang percaya Tuhan berdebat tentang teori Darwin yang tak masuk akal mereka, tapi Darwinian pun mendebat mereka bahwa Tuhan mereka pun tak masuk akal bagi para Darwinian. Orang-orang berdebat tentang pendaratan di bulan oleh AS, berdebat tentang bahwa sebelum menciptakan Adam, Tuhan menciptakan prototype Adam-Adam lainnya, dan debat-debat lainnya. Tapi selalu saja yang didebat itu bisa mendebat balik dan tetap bisa menjelaskan dan mendebatnya secara logis.

Sewaktu STM, saya pernah dikasih unjuk sebuah video tentang mantan biarawati yang masuk Islam dan menjadi ustadzah yang konon membongkar adanya Kristenisasi dengan membawa bukti seperti kaligrafi-kaligrafi yang bukan berasal dari Islam, atau bangunan-bangunan yang menyerupai masjid padahal bukan bangunan tempat ibadah Islam. Tapi saya juga pernah mendengar cerita orang yang keluar dari Islam dan masuk ke agama lain dan membawa kisah mukjizat yang kurang lebih sama dengan ustadzah itu, ia menemukan pencerahan hidup di agama barunya. Perdebatan-perdebatan semacam itu kadangkala saya rasa seperti pertengkaran antara JIL dan FPI. Kata JIL, FPI itu tidak benar karena merusak. Tapi kata FPI, JIL-lah yang sebenarnya tidak benar dan merusak. Persis seperti di mata orang normal, pasien-pasien RS Jiwa itu mengidap penyakit gila, tapi di mata pasien-pasien sakit jiwa itu, dokter dan pengunjung rumah sakit itulah yang gila. Persis macam orang kulit putih yang berjuang dengan susah payah untuk mendapatkan kulit berwarna, tapi orang dengan kulit berwarna juga berusaha mati-matian untuk mendapatkan kulit putih. Persis seperti orang kurus yang bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh orang-orang gemuk sampai kesusahan untuk menguruskan badannya sendiri. Tapi orang-orang gemuk pun sama, mereka juga bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh orang-orang kurus hingga mereka kepayahan membuat gemuk badannya sendiri. Saya menyebut ini sebagai perdebatan rumput tetangga, di mana rumput tetangga selalu kelihatan jauh lebih hijau dari milik kita sendiri, tapi kata tetangga, rumput halaman kitalah yang sebenarnya hijau.

Pemikiran-pemikiran yang debatable semacam itu sungguh banyak sekali. Banyak sekali hingga membagi makhluk ke berbagai jenis dan salah satunya adalah manusia, dan membagi manusia menjadi berbagai ras, suku, bangsa, agama dan sebagainya. Saya kira hal-hal semacam itu adalah hasil dari perdebatan-perdebatan yang membingungkan. Dan kata orang bahwa hidup adalah sebuah perdebatan mungkin ada benarnya. Dan selayaknya perdebatan yang seperti kita saksikan di tivi-tivi, maka wajar jika hidup ini membingungkan, membosankan, dan tak banyak berarti. Sebegitu membingungkannya sampai-sampai Soe Hok Gie pun bertanya pada banyak setan tentang tujuan hidup dan tak satu pun setan yang tahu. Sebegitu membosankannya sampai-sampai membuat Kurt Cobain kehilangan hasrat bahkan saat dirinya dipuja banyak orang dan memilih terbakar habis daripada memudar. (Saya tak mengerti bagaimana membosankannya hidup yang penuh dengan hujatan, wong hidup penuh dengan banyak pujaan pun ternyata bisa membosankan.) Sebegitu tak berartinya sampai-sampai Chairil Anwar pun ingin sesudah sekali merasa berarti, ingin lekas mati.

Saya rasa pengertian kehidupan seperti itu tidak hanya di mata Gie, Cobain, dan Chairil saja. Banyak di antara kita yang merasakan hal seperti itu. Hanya saja, doktrin agama, psikologi, dan lain sebagainya mendogma kita untuk selalu tampil optimis menunaikan hidup, penuh cinta, selalu gembira, dan penuh motivasi menjalani kehidupan seolah-olah kita semua dibayar untuk hidup. Hahaha.

Lalu apa tujuan hidup? Ketika ditanya tentang itu oleh seorang teman, saya dengan jawaban lugas dan kalimat yang ditekankan agar terdengar berwibawa seperti seorang motivator yang hidupnya selalu optimis menjawab bahwa tujuan hidup kita adalah menjadi berarti bagi yang lainnya. Itu saja. Jadi selagi berarti dan berguna bagi sesama maka tujuan hidup kita telah tercapai. Tapi di balik jawaban yang sok memotivasi itu pun saya menyimpan banyak pertanyaan apakah benar tujuan hidup seperti itu, lalu jika tujuan hidup sudah tercapai apakah kita boleh memilih mati saja? Jika benar hidup adalah sebuah pilihan, maka pilihan yang lainnya itu mati bukan? Jika benar tujuan hidup seperti itu maka apakah Gie, Cobain, dan Chairil yang ketiganya meninggal di usia muda (dan anggota Club 27 lainnya) sudah tercapai tujuan hidupnya? Jika benar, apakah orang-orang yang hidupnya sampai tua adalah orang yang terlunta-lunta mencari tujuan dan tak kunjung menemukannya? Jika benar seperti itu, ah beruntung sekali orang-orang yang meninggal di usia muda. Mereka mengerti bahwa hidup adalah ujian dan sebagaimana ujian maka yang menyelesaikan hidupnya cepat-cepat adalah orang-orang yang cerdas, dan betapa bebalnya kita berlama-lama hidup dan tak bergegas merampungkannya.

Soal meninggal di usia muda, saya dulu pernah punya tetangga yang lahir di zaman entah. Dulu sekali, sampai beliau sendiri pun lupa tahun berapa saking lamanya, dan ketika ditanya berapa usianya, beliau selalu menjawab 100 tahun. Tahun dulu ditanya, jawabnya 100 tahun. Tahun kemarin ditanya, jawabnya 100 tahun. Dan tahun pada waktu itu ditanya, jawabnya pun sama, 100 tahun. Usianya seperti abadi di umur 100 tahun. Namanya Kintel. Namanya pun aneh karena kintel di desa kami berarti kodok. Tapi itu wajar saja karena beliau lahir di zaman dulu sekali. Zaman saat nama seperti Runtah, Ribut, dan sebagainya dianggap baik-baik saja dan tak perlu diperdebatkan. Beliau adalah penyandang KTP seumur hidup dari sejak saya belum lahir, pertanda beliau sudah dianggap tua sudah sejak zaman dulu. Beliau mengklaim bahwa beliaulah yang usianya paling tua di desa kami, dan saya percaya saja padahal kata orang-orang yang sama tuanya bilang bahwa Pak Kintel berusia 80-an tahun.

Nah, pada suatu hari, Pak Kintel ini ditinggal mati istrinya, dan beberapa hari kemudian (belum genap 7 harian seingat saya,) beliau ditinggal mati anaknya yang masih berusia muda dan menurutnya belum pantas mati. Beliau saya lihat tak menangis saat istrinya meninggal. Tapi saat anaknya meninggal, beliau menangis tersedu-sedu seakan-akan kehilangan segalanya sampai-sampai beliau salah mengucap kalimat Innalillah dengan kalimat Alhamdulillah. “Alhamdulillah Ya Allah. Alhamdulillah Ya Allah…,” begitu beliau mengekspresikan rasa dukanya di hadapan jenasah anaknya. Saya tidak tahu apakah kalimat yang terlontar dari mulutnya adalah ucapan yang disengaja atau ucapan yang keluar dari mulut seorang yang pikun mengingat usianya yang sudah sangat tua. Saya dan tentu saja hadirin pelayat dibuatnya mual perut karena ingin tertawa atas kesalahan itu tapi ditahan-tahan mengingat suasana sedang berkabung. Tak elok jika tertawa.

Tapi seiring saya dewasa, saya mengerti mungkin Pak Kintel mengucapkan kalimat Alhamdulillah sebagai wujud syukurnya atas meninggalnya anaknya itu. Mungkin beliau penganut kepercayaan bahwa mereka yang meninggal di usia muda adalah orang-orang yang beruntung dan berkaca pada dirinya bahwa semakin menua usia maka semakin tidak beruntung dan hidup akan semakin menyedihkan karena akan semakin sering dirinya menjadi saksi kematian orang-orang terdekatnya, semakin sering mengalami kehilangan-kehilangan. Maka mati di mata saya dan Kintel bukan merupakan suatu hal yang menakutkan. Dan ketika suatu kali saya menangisi kematian, maka bukan kematian yang saya tangisi, tapi kehilangannya yang saya tangisi. Saya sedih karena kehilangan orang-orang berarti dalam hidup saya. Saya sedih kehilangan emak saya, Gie, Cobain, Chairil Anwar, dan orang-orang yang tujuan hidupnya seperti kata saya di tengah tulisan ini, ‘Menjadi berarti bagi yang lainnya’. Saya sedih kehilangan arti dan sekaligus senang karena orang-orang yang saya sebut tadi setidaknya pernah hidup dan menjadi berarti bagi saya. Saya bahagia tujuan hidup mereka tercapai. Dan persangkaan saya sewaktu mengira Pak Kintel menangisi anaknya yang mati karena dianggap belum pantas mati itu salah. Ternyata, tak ada kata terlalu muda untuk mati.

Fakta bahwa tak ada terlalu muda untuk mati itu benar. Pameo bahwa hidup ini sangat singkat itu benar adanya karena memang fase hidup memang begitu singkat. Kita lahir, menjadi anak, kecil, dewasa, punya anak, lalu mati. Itu saja. Jika beruntung, fase itu bisa kita tambahkan punya cucu, punya cicit, dan seterusnya. Jika tak beruntung, fase itu bisa berkurang menjadi hanya lahir, jadi anak, kecil, lalu mati. Atau singkat sekali, lahir, lalu mati. Beruntung dan tidak beruntung pun lagi-lagi seperti perdebatan rumput tetangga, beberapa orang menganggap yang fase hidupnya sampai menua dan punya cucu itu orang yang beruntung, sementara beberapa orang lainnya menganggap yang fase hidupnya singkat hanya lahir untuk mati saja itulah yang beruntung. Membingungkan bukan? Ya, wajar saja. Kita sedang membicarakan hidup dalam pengertian perdebatan. Membingungkan adalah kewajaran dalam sebuah perdebatan.

Perkara hidup yang membingungkan ini, saya punya cerita yang mungkin kita semua mengalaminya. Dahulu, dahulu sekali. Semasa kecil, saya ingin lekas menjadi dewasa. Di mata saya waktu itu, menjadi dewasa itu menyenangkan, kita bisa bebas melakukan apa saja karena kita sudah dewasa. Tapi setelah dewasa, saya mengerti bahwa kita didewasakan untuk memahami ternyata masa kecil adalah masa yang paling menyenangkan. Tuduh-menuduh seperti itu lagi-lagi persis orang sakit jiwa yang menganggap orang normal itu tak waras, tapi orang normal juga menganggap orang sakit jiwalah yang sebenarnya gila. Yang saya takutkan setelah memahami perdebatan-perdebatan rumput tetangga itu adalah begini, saya sekarang masih hidup dan iri kepada mereka yang mati karena menganggap mati itu menyenangkan. Saya ngeri ketika nanti saya mati, di dalam alam kematian sana, saya akan iri pada kehidupan karena ternyata kehidupanlah yang sebenarnya menyenangkan. Pusing bukan? Mari berhenti berdebat.

Dedo Dpassdpe
Makhluk Hidup

Tulisan ini dipersembahkan untuk mengenang hari ulang tahun Dwi Fitriyani yang ke 27 yang jatuh di hari yang sama pada saat 7 harian kematiannya. Saya bangga kamu masuk ke dalam Club 27.

Mohon tulisan ini jangan dipahami sebagai tulisan yang dogmatis dan jangan dijadikan sebagai anutan. Tulisan ini untuk keperluan bacaan saja agar kita memahami kehidupan di mata seorang nekrofilia atau kehidupan di mata seorang narsis seperti kata Cobain, yang baru menghargai sesuatu jika sesuatu itu sudah tidak ada lagi.

Apalah Arti Sebuah Nama

apalah-arti-sebuah-nama

Juliet berkata, “Hanya namamu yang menjadi musuhku. Tapi kau tetap dirimu sendiri di mataku. Bukan Montague. Apa itu Montague? Ia bukan tangan, bukan kaki, bukan lengan, bukan wajah, atau apapun dari tubuh seseorang. Jadilah nama yang lain. Apalah arti sebuah nama? Harum mawar tetaplah harum mawar. Meskipun mawar berganti dengan nama lain, ia tetap bernilai sendiri, sempurna, dan harum tanpa harus bernama mawar. Romeo, tanggalkanlah namamu. Untuk mengganti nama yang bukan bagian dari dirimu itu. Ambillah diriku seutuhnya.”

Mari merenung. Pernahkah kita bertanya pada orang tua kita apa maksud nama yang diberikan oleh orang tua kepada kita? Orang tua kita, atau lebih spesifiknya orang tua saya yang terlahir dari keluarga desa yang orang tuanya terlahir entah kapan, menikah saat masih di sekolah dasar, dan tidak pernah mencatatkan kelahiran di catatan kependudukan sipil kalau tidak disuruh-suruh oleh tokoh desa, mungkin tak pernah memunyai maksud apa-apa dalam memberikan nama pada anaknya. Wong kelahirannya sendiri saja beda-beda di setiap kartu identitas apalagi mencatatkan kelahiran anaknya dengan catatan yang tepat kelahirannya dan keren namanya seperti nama-nama orang kota yang mengandung kata David, Steven, Christian, Dimitri, Alexander, dan lain sebagainya. Maka di desa, orang tua seperti ini adalah orang tua yang paling banyak jenisnya, memiliki tanggal lahir yang gampang dan mudah diingat. 17 Agustus.

Saya sendiri pernah bertanya pada ibu saya tentang asal-usul nama saya. Lalu beliau menjawab dengan rinci dan detail sampai pada proses beliau melahirkan saya, menamai saya, membetulkan tidur saya waktu bayi jika tidur saya miring biar kepalanya tidak peyang, mengajari saya berjalan, dan banyak lagi. Beliau bilang, nama saya diberikan oleh Uwak saya. Kakak dari ibu saya. Kakak dari ibu saya adalah seorang kyai dan ulama panutan di desa. Seluruh desa adalah murid ngaji Uwak saya. Beliau dihormati dan disegani sampai-sampai kalau orang di desa ada yang sakit, minta obat di sana. Dengan metode penyembuhan mistik memakai doa, spidol, dan air putih. Uwak saya juga sering jadi juru runding antar dua tetangga yang bertengkar hebat seperti dua ekor kucing senewen hingga ketua RT di wilayahnya tak bisa mengendalikannya. Uwak saya jadi tujuan bersilaturrahim jika lebaran tiba. Uwak sayalah orang yang dicari jika ada orang kesurupan. Uwak saya juga jadi orang yang dicari untuk diminta pertolongan jika bayi-bayi di desa kesulitan bertahan hidup setelah terlahir. Uwak saya bahkan menamai banyak anak-anak yang terlahir yang sampai hari ketujuh orang tuanya tak kunjung menemukan nama yang cocok. Orang-orang di desa sebelum datangnya era Uwak saya menjadi panutan, sembarangan sekali menamai anaknya hingga ada orang yang bernama Runtah (bahasa Jawa dari sampah), Ribut (bahasa Jawa dari kekacauan), Glodok (bahasa Jawa dari kepala besar), Kintel (bahasa Jawa dari kodok), Tobat, Rawan, dan lain-lain.

Untuk menghormati Uwak saya, ibu meminta Uwak saya untuk memberikan nama pada saya. Diberilah nama itu. Islami sekali. Seperti kebanyakan lelaki muslim, bernama depan Mohamad. Biar jadi ustadz, kata Uwak saya. Lebih lengkapnya nama saya adalah terinspirasi nama dari saudagar kerabat dari Sunan Ampel. Hal ini saya ketahui setelah saya beranjak besar dan mencari juntrungan dengan banyak membaca, saat itu membaca buku tentang Wali Songo.

Ibu saya sendiri sebenarnya adalah orang yang sangat awam. Tipikal perempuan Jawa yang manut, tak banyak mau, terimaan. Beliau tidak pernah tahu nama saya artinya apa dan tidak pernah berusaha mencarinya. Asal berbahasa Arab, maka baguslah nama itu. Seperti doa. Padahal tidak semua kata dalam bahasa Arab itu doa. Tapi tak apa, di dalam sebuah pertandingan sepakbola Indonesia Vs Yaman yang saya tonton langsung di Bandung beberapa tahun lalu, banyak orang berteriak, “Aamiin!” saat nama-nama pemain Yaman disebutkan. Maka ibu saya bukan termasuk kaum minoritas. Awam adalah hal yang jamak di negeri kita ini.

Saking awamnya ibu saya, dan juga bapak saya, mereka berdua pun tak pernah mengingatkan atau memberi ucapan apapun saat tiba hari kelahiran saya dari tahun ke tahun. Sampai saya memasuki usia sekolah. Tapi di sekolah pun, anak-anak lain, kawan-kawan satu kelas saya tak pernah ada yang merayakan hari ulang tahun. Dosa dan bukan budayanya, kata para orang tua jika anaknya bertanya kenapa tidak pernah dirayakan hari lahirnya. Anak-anak satu desa pun kompak menuruti mitos turun-temurun para orang tua dari orang tua dan orang tua dari orang tua mereka. Kakek moyang kita. Maklum, anak-anak di desa begitu patuh dan takut dosa.

Hal itu berlangsung sampai saya lulus sekolah dasar dan memasuki sekolah menengah. Di SMP, yang kebetulan saya lolos masuk ke sekolah favorit satu kecamatan, saya baru menjumpai anak-anak yang lahir dari keluarga modern yang orang tuanya mengucapkan, bahkan merayakan hari ulang tahun anaknya. Tapi saya tak pernah merayakannya. Saya terbiasa tidak merayakan kegiatan ini sampai-sampai saya lupa kegiatan ini harus dirayakan pada tanggal berapa. Kawan, ini sungguh. Kalau kita biasa dilupakan, kita juga akan terbiasa melupakan. Saya tak ingat betul hari kelahiran saya. Kalau pun saya ingat, saya ragu hari kelahiran itu apa benar-benar hari kelahiran saya. Mungkin saja di setiap surat kependudukan, hari kelahiran saya berbeda-beda seperti hari kelahiran bapak saya di berbagai surat catatan sipil. Maka jadilah dari tahun ke tahun saya tak pernah merayakannya karena saya tak biasa. Satu-satunya orang yang ingat hari kelahiran saya adalah seorang perempuan pendiam (lebih tepatnya, mendiamkan saya, atau saya yang mendiamkannya, atau kami saling diam) yang sebut saja bernama Bunga di kelas saya. Itu pun selama tiga tahun hidup satu kelas, baru ia mengucapkannya pada kelas tiga. Menjelang perpisahan kelulusan. Itu pun diucapkan melalui buku diari. Itu pun buku diari entah milik siapa. Itu pun tidak menyebut nama saya dan hanya menyebut hari kelahiran saya saja. Itu pun kalau saya tidak baca buku itu, saya tidak pernah tahu. Itu pun saya dipaksa membacanya oleh teman saya. Itu pun saya tak yakin dari seisi kelas, cuma saya yang memiliki hari kelahiran itu. Tapi tidak mengapa, orang yang terbaik punya rasa malu yang besar. Bahkan untuk menunjukkan perhatian pun malu apalagi untuk melakukan kejahatan.

Tahun demi tahun berlalu. Beranjaklah saya lulus sekolah dan harus masuk sekolah menengah tingkat atas. STM. Saya memilih STM karena saya mengidap ketakutan tak beralasan berurusan dengan perempuan. Venustraphobia namanya. Dan ini lagi, kawan. Pengaruh sebuah kebiasaan. Terbiasa didiamkan, akan membuat orang-orang menghindari sesuatu yang mendiamkannya. Maka saya menghindari pertemuan-pertemuan dengan para perempuan di hari-hari sekolah menengah tingkat atas saya. Sudah cukup tiga tahun saya saling diam di SMP. Jangan sampai berlanjut ke tingkat sekolah berikutnya. STM saya pilih. Sekolah yang semua siswanya adalah laki-laki.

Di STM, saya berkawan dengan bencoleng-bencoleng preman puber masa sekolah yang sedang giat mencari jatidiri dan mencari nama. Saya yang sudah nakal dan bandel dari sejak belum bertemu mereka, jadi makin tidak karuan. Tawuran, mengamen, ditangkap polisi, memalak, membolos, adalah hari-hari saya. Orang-orang dari golongan ini, bahkan hidupnya sendiri pun tidak disayang apalagi menyayangi hidup orang. Apalagi mengingat hari lahir kawannya, wong ulang tahun sendiri pun persetan. Maka cocoklah saya di lingkungan ini.

Tahun pertama di sekolah, saya merasa cocok. Tahun kedua ternyata berbeda, ternyata saya semakin cocok sekali. Saya pun betah. Tapi pada tahun itu, paman saya membuka radio kampung di desa. Bermodalkan tiga buah tape, kaset pinjaman, kertas atensi yang dijual perlembar lima ratus rupiah, dan alat-alat seadanya, paman saya membuat siaran radio. Saya didapuk menjadi penyiarnya untuk bersiaran pada jam musik pop. Maka saya mengurangi kenakalan saya di sekolah untuk menjadi penyiar radio kampung yang baik.

Karena siaran radio, digantilah nama saya yang islami dan religius itu menjadi Dedo Dpassdpe. Karena biar tidak terkesan salah tempat, siaran musik pop kok namanya berbau pesantren. Cool sekali nama itu saya pikir. Agak rumit nama belakangnya tapi. Jika Shakespeare bertanya pada saya apalah arti sebuah nama, maka nama itu keren sekali jika saya sampaikan tanpa harus menjelaskan artinya. Tapi sebenarnya Dpassdpe adalah sebuah singkatan dari tanggal lahir. Saya menentukannya sembarang. Dpassdpe terbesit begitu saja tanpa utak-atik yang njlimet. Keluar dari otak begitu saja seperti kudanil menguap. Tanpa harus minta petunjuk kyai. Tanpa harus menunggu tujuh hari. Tapi Dpassdpe juga terkesan keren dan pantas menjadi penyiar musik pop meskipun radionya hanya radio kelas kampung yang kalau hujan tidak ada siaran, yang siarannya cuma di prime time saja. Dpassdpe terkesan rumit dan keren (saya tidak habis pikir kenapa orang yang sok rumit merasa dirinya keren) seperti nama orang Eropa yang berawalan David, Steven, dan sebagainya. Setingkat lebih mudah dibanding nama belakang Arnold, nama kiper Arsenal, dan nama terduga pengebom Boston.

Tapi memang dasar orang udik, biar nama dibuat macam apa sekali pun tetap kampungan. Hari pertama siaran, musik diulang-ulang itu-itu saja karena kami kekurangan kaset. Hari berikutnya, musik sering berhenti di tengah jalan karena salah memutar kaset atau yang lebih parah adalah pita kasetnya nglolor. Minggu pertama, suara saya masih bocor jika musik sudah diputar karena saya lupa mematikan michrophone. Minggu berikutnya saya bosan karena yang membeli atensi orang-orang itu saja. Amatir sekali radio kampung kami. Sebulan kemudian radio ditutup karena teman saya (masuklah ke surga kawan saya, Ibnu Kholdun) meninggal dunia kesetrum antena relay yang dipasang maksudnya untuk memperbesar jangkauan siaran radio. Maka tamatlah nama Dpassdpe dalam usia sebulan.

Tapi ternyata nama itu berguna untuk mengingatkan hari lahir saya. Saya yang setelah dewasa mencari-cari asal-usul dan menemukan bahwa hari lahir saya sama dengan hari lahir Muhammad, orang terbaik sedunia versi buku Michael H. Hart, dan Adolf Hitler, orang terjahat sedunia versi buku yang sama, baru sadar ternyata hari lahir saya gampang diingat seperti hari lahir kebanyakan orang tua yang kompak di tanggal 17 Agustus. Tapi nama itu berguna untuk mengenalkan diri saya. Jika saya mencorat-coret tembok dengan cat Pilox saat membolos sekolah, saya bangga menuliskan nama itu. Meski teman-teman saya tidak ada yang tahu arti nama itu. Nama itu pun menjadi semacam sayembara, jika yang sukses menebak adalah pria maka saya anggap sahabat. Jika yang berhasil menebak adalah perempuan, maka terserah orang itu mau menganggap saya apa. Pacaran boleh, berteman juga tak apa. Hal ini berlangsung sampai tahun 2006. Saya sudah tinggal di Jakarta. Tidak ada yang tahu arti nama itu, sampai seorang perempuan datang dalam hidup saya dan menanyai segala hal tentang saya. Nama saya itu pun ditanya apa maksudnya, tapi saya tidak menjawabnya. Maka diutak-atiklah nama itu sampai empat tahun kemudian kami yang sempat terpisah dipertemukan kembali. Dia datang dengan membawa sebuah tebakan. Hampir tepat. Karena sudah berjanji akan menerima dirinya jika dia berhasil menebak nama saya, dan kebetulan saat itu saya single, maka saya menerimanya. Kami pun jalan.

Setelah peristiwa itu, banyak orang yang bertemu saya, di dunia nyata, di tempat kerja, di perkumpulan pertemanan, di internet, di Facebook, di Twitter, di BBM, di mall, di pasar, di mana saja selalu ingin tahu nama yang aneh dan sok rumit itu. Semakin banyak orang yang menginginkan mengetahui apa artinya, semakin banyak orang yang berusaha membongkarnya. Maka terbongkarlah nama itu. Dpassdpe, Dua Puluh April Seribu Sembilanratus Delapan Puluh Enam. Masih muda, kan? Selamat buat siapa saja yang mengira usia saya di atas tiga puluh tahun, empat puluh tahun, dan seterusnya. Selamat buat yang memanggil saya, “Oom,” “Pak,” “Bang,” dan “Kak,” selama ini padahal mereka lebih tua ketimbang saya. Bingo! Dan selamat bagi siapa saja yang berhasil membongkarnya. Eureka! Ah, iya. Buat yang berhasil menebak, hari ini saya masih single lho (kode).

Happy Dpassdpe Day!

Dedo Dpassdpe
Pria yang Rumit dan Njlimet