Man Jadda Wa Jada!

Film Negeri 5 Menara adalah sebuah film produksi Kompas Gramedia bekerjasama dengan Million Pictures yang diangkat dari novel karya Ahmad Fuadi berjudul sama. Skenario ditulis oleh Salman Aristo yang biasa menulis naskah film-film laris Indonesia dan disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman. Film ini dibuat di 4 lokasi syuting, yaitu di Sumatera Barat, Pondok Pesantren Madani Gontor Ponorogo Jawa Timur, Bandung, dan London (Inggris).

Negeri 5 Menara mengangkat nilai-nilai persahabatan dan kebersamaan anak-anak remaja santri di sebuah pondok pesantren Islam dengan latar belakang adat dan suku yang berbeda. Mereka bersama-sama berjanji dan bersungguh-sungguh untuk meraih mimpi dengan filosofi Man Jadda Wa Jada (Siapa yang bersungguh-sungguh akan menuai hasilnya).

Kisah bermula dari seorang Alif (Gazza Zubizareta) yang baru saja lulus dari SMP di Maninjau yang harus berpisah dengan sahabatnya Randai (Sakurta Ginting) dan mengubur mimpinya melanjutkan studi ke Bandung serta cita-citanya untuk meneruskan kuliah di ITB agar seperti idolanya BJ. Habibie. Dia merelakan semuanya untuk menuruti amanat Amaknya (Lulu Tobing) dan Ayahnya (David Chalik) yang ingin agar Alif masuk pesantren di pulau Jawa dan berharap Alif bisa berguna bagi khalayak, seperti Buya Hamka dan Bung Hatta.

Singkat cerita, Alif pun merantau ke pulau Jawa dan diterima menjadi salah satu santri di Pondok Pesantren Madani. Di pesantren, pada mulanya Alif lebih sering menyendiri karena harus menguatkan hati merelakan keinginannya demi bisa membahagiakan orang tuanya. Tapi di kemudian hari, Alif mulai bersahabat dengan teman-teman satu kamarnya, yaitu Baso (Billy Sandy) dari Gowa, Atang (Rizky Ramdani) dari Bandung, Said (Ernest Samudera) dari Surabaya, Raja (Jiofani Lubis) dari Medan, dan Dulmajid (Aris Putra) dari Madura. Mereka berenam selalu berkumpul untuk berbincang membicarakan mimpi-mimpi mereka di menara masjid dan menyebut diri mereka sebagai Sahibul Menara.

Seperti naturalnya film yang diadaptasi dari novel tebal, ada kesulitan tersendiri mengingat ekspektasi pembaca novel yang selalu mengharapkan film harus lebih bagus dari novelnya. Kebanyakan pembacapun memiliki film tersendiri dan alur cerita di kepalanya masing-masing. Kesulitan ini terasa di film yang memang agak berjalan lambat di awal. Turning point film ini terjadi saat Alif dan kawan-kawan disentak oleh pedang dan kesan mendidik yang tak biasa dari Ustad Salman (Donny Alamsyah). “Ingat! Bukan yang paling tajam, tapi yang paling bersungguh-sungguh. Man Jadda Wa Jada!” Begitu katanya berulang-ulang hingga bergema dan diikuti seisi ruang setelah berhasil memotong kayu dengan sebilah pedang yang sudah karatan. Inilah yang menyemangati keenam remaja itu, dan saya yakin menyemangati para penonton juga.

Di bawah menara Madani, mereka berjanji dan bertekad untuk bisa menaklukan dunia dan mencapai cita-cita menjadi orang besar, yaitu orang yang besar jiwanya untuk membuka dunia di pelosok-pelosok negeri dengan tanpa pamrih. Bukan orang besar macam ketua partai, pemimpin Ormas, kepala instansi berbadan gendut, atau orang kaya pada umumnya.

Film ini sarat dengan pesan moral, inspirasi, tekad, dan bumbu konflik menarik yang membuat penonton terpingkal oleh ulah para Sahibul Menara. Dan juga pengetahuan bahwa pendidikan Islam khususnya pesantren tidak melulu terkungkung dari peradaban dan budaya lain. Bahwa di pesantren juga ada teknologi, seni, jurnalisme, bahasa Inggris, dan musik, bukan cuma pelajaran mengenai agama saja yang dogmatis.

Ada sebuah petikan pelajaran dalam film ini bahwa harapan dan mimpi-mimpi yang besar mampu menciptakan orang-orang hebat. Hebat dalam menghidupkan mimpi, dan mewujudkan harapan menjadi kenyataan. Bukan menghidupi mimpi apalagi memimpikan hidup. Caranya? Man Jadda Wa Jada!

Dedo Dpassdpe
Penikmat Film Indonesia

RESOLUSI

Resolusi mungkin bagi saya dan sebagian orang bisa diartikan sebagai tekad, atau tujuan yang harus dicapai di masa depan. Ada yang bertekad untuk menyelesaikan skripsi, ada yang ingin menabung, bangun rumah, beli mobil, mau sedikit lebih gemuk, pengen kurus, dapat pacar, bisa bahasa Inggris, dan ada juga yang ingin menikah. Yang terakhir saya sebut, tentu bisa jadi momok menakutkan dan lebih pantas disebut nekad ketimbang tekad. Bagaimana tidak? Lha wong tinggal masih kost, tidak punya tabungan, mobilnya masih nebeng angkot, bahasa Inggrisnya tak karuan, tidak punya pacar pula, kok nekad bikin resolusi mau menikah?

Soal menikah, tentu sebagian besar orang menginginkannya. Perempuan, pastilah ingin mendapat momongan cepat-cepat agar selisih usia dengan anaknya tak jauh-jauh amat. Laki-laki pun pasti mau menikah, tapi tentu saja kendala mapan dan hidup mencukupi jadi lawan terberat di era hedonisme di kota besar seperti sekarang ini. Apalagi buat yang bermata-pencaharian pas-pasan seperti saya, —pas pengen komputer tablet ngelus dada, pas lihat rumah bagus ngiler, pas ada mobil sport melintas cuma bisa memaki— ajakan pacar untuk menikah itu selalu tampak menakutkan. Dan di sini berlakulah pepatah rumput tetangga jauh lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri. Betapa saat kita menjomblo ingin punya kekasih, dan saat punya pacar, single kok kelihatan asik.

The Power of Runner-up

Lalu kenapa saya menulis tentang resolusi bukan di awal tahun? Harus diakui, ini tulisan yang terlambat karena turun di bulan Februari, bulan kedua. Tapi biarlah terlambat, bagi saya terlambat itu seharusnya cuma berlaku buat orang yang sudah meninggal. Ngomong-ngomong soal kedua, kawan, itu belumlah tentu buruk. Menjelang akhir tahun lalu, saya pernah mengikuti lomba makan-minum di 7Eleven dan menjadi juara di salah satu outlet. Ini prestasi yang terus terang ambigu bagi saya, menang yang tak tahu malu saya sebut, mungkin seperti euforia setelah berhasil merebut pacar orang. Tak patut dirayakan. Sebagai juara satu, saya berhak masuk final dan mendapat voucher sejuta khusus untuk produk fresh food (Menang lomba makan, dan dapat sejuta untuk makanan lagi? Meh!) Dengan kecil kemungkinan menang di final, saya menyesal melihat juara dua tingkat outlet yang dihadiahi voucher fresh food lima ratus ribu dan sebuah kamera poket merek Kodak bermegapixel dan resolusi lumayan. Ini mungkin yang disebut The Power of Runner-up. Bahwa menjadi kedua tak lantas menjadi buruk. Kita yang mungkin pernah bersama teman-teman iseng memasuki rumah hantu, pasti jarang menemukan orang mau rela menjadi yang pertama kali masuk. Beberapa lelaki pun lebih memilih perempuan yang bukan tercantik di suatu perkumpulan, tapi yang kedua tercantik. Itulah, tak selamanya menjadi nomor satu itu hebat bukan? Jadi, tak perlu menomor-satukan resolusi.

Resolusi

Tak mau berlama-lama menyesali raibnya kesempatan memiliki kamera poket beresolusi lumayan itu, saya pun lekas membuat resolusi sendiri. Tahun 2011 akan segera berakhir, dan 2012 yang digadang-gadang oleh suku Maya sebagai tahun terakhir akan segera tiba. Sesungguhnya, kawan, dari tahun ke tahun resolusi saya tetap sama. Tak penting pula buat saya yang lahir di dusun kecil ini untuk membuat peta keinginan semacam itu. Di kampung saya tak pernah ada perayaan Tahun Baru, apalagi membuat resolusi. Resolusi kamera yang nyata pun tidak dimengerti kami sebagai orang kampung, apalagi resolusi Tahun Baru yang tak kasat mata. Tapi karena tahun 2012 spesial, —antara lain karena Januari mengalami dua kali Tahun Baru: Masehi dan Imlek— maka saya membuat cita-cita. Karena saya sedang bercerita tentang “Dua”, maka cita-cita saya pun dua, yaitu menggores tulisan lagi dan mewujudkan re-solusi. Re-solusi (pemecahan kembali) terhadap hal apa saja, antara lain masalah-masalah yang biasanya ada di ramalan zodiak. Yaitu hidup, percintaan, dan pekerjaan saya agar jadi lebih baik. Menata kepingan-kepingan pixel hidup saya yang sempat demikian hancur beberapa masa silam (ini lebay) agar menjadi indah, berseni, dan menarik seperti gambar yang didapat dari kamera dan lensa mahal sang juru foto profesional.

Pernah dalam satu obrolan ringan dengan seorang juru potret event-event kantor saya, saya beroleh pelajaran bahwa resolusi dalam kamera memang sering dianggap nomor satu oleh fotografer amatir, tapi sesungguhnya yang teramat penting adalah lensa. Sayapun mengolah percakapan itu, mengejawantahkan ke ranah kehidupan yang lebih luas. Barangkali lensa adalah mata. Dan ya, saya setuju mata itu penting buat kehidupan. Mata fisik, mata hati, dan terutama ini yang terpenting kalau mau menikah … mata pencaharian.

Dedo Dpassdpe

Juru Foto Amatir

pernah diterbitkan di Tumblr awal Februari 2012

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.